KabarWacana

Tren Penerbitan Puisi Kiwari, K. Kasdi W.A.

Fenomena yang menjamur adalah penerbitan
puisi bersama. Terutama, yang aku amati dari
pengumuman di fesbuk. Biasanya diprakarsai
oleh grup fesbuk sebagai ajang penayangan
karya sastra (puisi). Grup atau komunitas yang
secara teratur mengadakan menulis puisi bersama bisa disebutkan, seperti Komunitas dari
Negeri Poci (kurator Handrawan Nadesul, Adri
Darmadji Wiko, Kurniwan Junaedi, dan lainnya),
Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia (RgBagus
Warsono), Komunitas HB Jassin (Remmy
Novaris DM), dan tentu masih banyak komunitas puisi yang menerbitkan kumpulan puisi
bersama sekali-sekali. Dan kontributornya cukup banyak.

Hal seperti itu tidak terjadi pada era 80-an. Mengapa? Tahun 1980-an ini penerbitan dikuasai kapitalis yang berwujud perusahaan percetakan dan penerbitan. Sebagai perusahaan, ia tentu mengejar profit atau keuntungan. Oleh sebab itu, ia menerapkan persyaratan yang ketat terhadap naskah yang masuk. Sulit sekali menembus ruang penerbitan. Justru sastrawan yang terkenal, naskahnya akan dibeli dengan harga tinggi (sekalipun karya itu biasa-biasa saja). Sehingga tidak banyak sastrawan yang karyanya bisa diterbitkan dan mengisi rubrik media cetak.

Berbeda halnya sekarang, teknologi komunikasi android telah mempermudah dan
memberi banyak harapan untuk memamerkan
puisinya, Aku pun mendapat berkah dari teknologi ini. Mengapa tidak ? Hanya dengan modal hape Oppo 2 RAM saja telah bisa menerbitkan 5 kumpulan puisi ringan di tahun 2021 ini. Prestasi kah ini? Bagiku ya, mungkin yang lain menganggap ini kerja kesia-siaan. Di kolong langit ini adanya kesia-siaan artinya kesementaraan. Dan selebihnya sedikit kebahagian.

Aku terus terang banyak tidak ikut even penulisan bersama. Ini bukan berarti anti terhadap fenomena ini. Tidak. alasannya sederhana karena nggasatek (nggak menguasai teknolologi). Mengirim tulisan lewat email saja tidak bisa, harus nyambat (minta tolong orang lain). Aku sempat ikut beberapa kali ikut dan naskahnya aku kirim lewat WA. Pernah aku nyambat untuk mengikuti penulisan bersama ternyata naskahku tidak terkirim.

Di umurku yang sudah tidak seperti tahun 80-an aku ingin sesuatu yang tidak ribet. Akhirnya
aku memilih mengumpulkan puisi-puisi yang
kukirim di berbagai grup dan aku terbitkan
menjadi antologi. Saya bersyukur telah memiliki 5 kumpulan puisi ber-ISBN. Dua buku diterbitkan Prabu DuaSatu kota Batu Malang,
yaitu BISIK DAUN-DAUN PADI dan GEMURUH
OMBAK, MATA SEPI MATA DURI diterbitkan
Teras Budaya Jakarta, LUKA PANDEMI LUKA
ABADI oleh Yayasan Puisi indonesia Jakarta,
dan LUKA MALAM LUKA PUALAM (sedang
naik cetak), serta kelimanya terbit pada
tahun 2021 ini, masih tahun pandemi.

Dalam hati kadang aku iri pada teman ada
yang mengikuti penulisan bersama 80 kali,
ada yang 3, 7, 11, 20, dan seterusnya. Penyelenggara biasa berlaku sebagai penerbit
atau menggandeng penerbit lain. Penjualan
buku interen kontributor dengan lebel “pengganti ongkos cetak”. Dan mungkin tidak untuk menghasilkan keuntungan. Akan tetapi,
lebih merupakan pendokumentasian. Semuanya akan menghuni di perpustakaan nasional di Jakarta.

Fenomena penulisan bersama adalah greget
yang perlu diapresiasi. Sekaligus memberi
ruang yang senang dokumentasi juga sekaligus menggayengkan literasi Indonesia lewat android, fesbuk dan bentuk lainnya.

Sragen, 13 September 2021, K.Kasdi W.A.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button