Wacana

Mempertimbangkan Wayang Indonesia

Purnawan Andra, Peminat kajian tari dan antropologi seni Alumnus Jurusan Tari Institut Seni Indonesia Solo. Tinggal di Jakarta

Pada 4-7 Juli 2013 lalu di kompleks Kota Tua Fatahillah, Jakarta, digelar Festival Wayang Indonesia (FWI) 2013 yang berisi pameran, diskusi, sajian dan perlombaan. Para dalang muda berusia 16-30 tahun yang berasal dari 13 provinsi di Indonesia, di antaranya dari Sumatra Utara, Riau, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Tengah, bepartisipasi.

Acara ini digelar Kementerian Pemuda dan Olahraga, Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi), Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi), dan Museum Wayang dengan sponsor utama perusahaan minyak Prancis, Total Indonesia. Representasi wayang diharapkan dapat menjadi refleksi falsafah hidup dan nilai-nilai positif yang aplikatif dalam hidup sehari-hari.

Hal ini menjadi bagian usaha merevitalisasi wayang sebagai heritage (warisan dunia) yang diakui UNESCO sejak 21 April 2004 di Paris, Prancis. Seni yang berasal dari khazanah adiluhung dan bermartabat dari warisan nenek moyang ini sudah semestinya kita pertahankan dan kokohkan kehadirannya di era global yang penuh dengan ragam perbedaan ini.

Sebagai salah satu magnum opus peradaban, wayang mempunyai posisi, fungsi, dan pemaknaan yang lekat dengan kebutuhan akan estetika, etika, spiritualitas, identifikasi, komunalitas dan juga ekonomi masyarakat. Namun, kita tahu, spirit kebudayaan tidak hanya terdapat dalam wujud fisik. Spirit budaya juga ada pada nilai-nilai, etika, dan hal-hal filosofis yang lain. Karena itu, spirit budaya sebaiknya juga menunjuk pada nilai-nilai tertentu yang aplikatif dan mempersatukan. Dan wayang bisa menjadi jawaban.

Edukasi
Menurut Susanne K. Langer, seni yang sejati memiliki nilai edukasi. Seni seperti itu lebih dari sekadar merangsang rasa keindahan sensoris belaka, akan tetapi sebuah stimulasi pemupuk kematangan pribadi seseorang terhadap nilai-nilai hidup yang lebih terintegrasi. Walaupun menyiratkan kepedihan dan kehancuran, akan tetapi hal itu dipahami sebagai pupuk untuk membangun kearifan pribadi.

Itu sebabnya dalam pameran pengunjung dapat menyaksikan koleksi dan sajian wayang kulit purwa versi Yogyakarta, wayang golek Minang, Wayang Potehi, Wayang Kampung Sebelah, wayang pesisir, wayang orang, dan masih banyak lagi. Pengunjung dapat mengetahui dan mengenal lebih dekat karya seni anak bangsa yang selama ini dianggap terpinggirkan oleh laju zaman.

Tak dapat dimungkiri jika seni sesungguhnya adalah kebutuhan hidup yang mengandung manfaat baik dari segi muatan maupun fungsinya. Pada aspek muatan, wayang menyampaikan piwulang, nasihat, kritik, cerita tentang kebenaran dan kebaikan. Dari fungsi sosialnya ia dapat menciptakan kedamaian serta wahana menuju rekonsiliasi, sekaligus merupakan kesadaran paling efektif untuk mencairkan kebekuan, kekakuan yang lahir dari suasana penuh ketegangan dan konflik sosial, politik serta etnik yang menjurus pada disintegrasi bangsa sebagai akibat kekurangan pemahaman terhadap kebinekaan dalam konteks Indonesia.
Hal ini pula yang coba disampaikan Akademi Seni Mangkunegaran (Asga) Solo melalui sajian wayang orang bertajuk Gathotkaca Gandrung, Limbuk Wuyung, Bagong Bingung. Karya ini seakan menjadi satire atas kondisi bangsa yang tengah dilanda disorientasi dan disorganisasi, mulai dari pemimpin dan kalangan atas sampai dengan rakyat bawah. Kerinduan Gathotkaca, Limbuk yang merana, dan Bagong yang sedang bingung adalah representasi potret masyarakat kekinian dalam bingkai ekspresi seni.

Wayang adalah bagian kebudayaan kita, bahkan bagi orang Jawa wayang adalah katalog hidup. Wayang adalah jagat kompleks untuk mengidentifikasi identitas, idealitas, dan refleksi atas realitas hidup manusia. Pesan moral dalam pementasan wayang hadir lewat kisah dan juga pencitraan tokoh wayangnya. Simbolisme yang dibawanya mampu membuat pelbagai perkara sanggup diartikulasikan dengan multiperspektif dan multitafsir.

Simbolisme itulah yang menjadi kunci eksistensi dan esensi wayang. Pada setiap pementasan wayang terjadi proses transformasi nilai moral kepada penonton. Sejak zaman Jawa Kuno hingga kini, pementasan wayang adalah tontonan massal, baik untuk tujuan ritual maupun sosial-politik. Pertunjukan wayang dengan kebijaksanaan ini menjadi semacam ”mekanisme referensial” proses belajar dan introspeksi.

Refleksi
Berdasar realitas tersebut, menonton wayang bukan berarti sekadar untuk ”mencari hiburan”, ”sekadar nostalgia”, dan sebagainya, minus refleksi nilai-nilai moral dalam wayang. Hal ini penting karena dunia pewayangan berhadapan dengan nilai-nilai baru. Seturut logika Wiyogo (2011) wayang tidak bisa lepas dari persoalan-persoalan yang melingkupinya, tidak hanya dengan teknologi dan kreativitas.

Dengan masyarakat yang banyak mengonsumsi media massa modern yang tentu saja berbeda dengan media wayang yang tidak lugas dan cepat, maka tarik-menarik antara nilai lama dan baru akan selalu berada pada titik rawan. Apalagi masyarakat kini berwajah koran dan TV, yang membawa budaya dan nilai-nilai baru, dengan plus minusnya. Padahal wayang memediakan diri lewat simbol, pragmatisme dan bahkan terkadang irasional, bersifat lokal, oleh karenanya sulit dipahami khalayak luas.

Hal ini mesti digarap luwes dan kreatif. Kreatif memainkan kemajemukan, berbekal dada yang selapang-lapangnya dalam menyediakan ruang gerak yang bebas untuk mengembangkan kepribadian bangsa yang akan muncul bersama kultur kita yang majemuk dan dinamis itu. Wayang bukan hanya catatan sejarah yang tercipta berdasarkan unsur kebetulan. Wayang adalah representasi eksotisme ketajaman rohani, spiritualitas, dan eksistensi budaya manusia dalam pemahaman konsep kehidupan. Wayang membuktikan pembentukan peradaban dan olah teknik-estetika yang merepresentasikan eksistensi manusia.

Wayang adalah ruang pembacaan yang lebih kritis tentang identitas, tradisi, modernitas, dan sejarah itu sendiri. Dengannya kita bisa memahami bahwa tradisi pada dasarnya adalah sebuah mental facts yang dalam wujud penciptaannya merupakan aktivitas sistemik yang sejajar dengan kristalisasi, baik dalam bentuk transfer knowledge maupun transfer values (Stuart Hall, 1997). Terlebih dengan eksistensi wayang dalam masyarakat, signifikasi budaya tradisi dalam karya seni adalah tersusunnya sebuah agenda bagi daya cipta, tuntunan laju dan arah peradaban manusia yang lebih baik.

http://www.solopos.com/2013/07/11/gagasan-mempertimbangkan-wayang-indonesia-424225

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button