Kabar

Seni Grafis Masa Kini Dengan Print Digital

Wacana grafis sekarang berkembang pesat seiring dengan perkembangan teknologi yang lebih maju. Persoalan teknis dalam membuat karya grafis pun lambat laun ditinggalkan oleh generasi muda yang menekuni seni grafis.
Pada awalnya karya grafis belum dimasukkan ke dalam karya seni pada sebelum abad 18 di Eropah. Beberapa teknik grafis pun muncul, yaitu cetak saring, etsa, litografi, dry point, aquatint, engraving, salt print.
Seni grafis yang dianggap sebagai media komunikasi mulai mempertimbangkan konvensi sebuah karya grafis. Itu terus berkembang hingga revolusi teknik mulai dilakukan oleh seniman grafis.
Kini, mahasiswa FSRD-ITB mulai membuka pembaruan wacana seni grafis setelah melakukan studi grafis selama enam bulan di bawah bimbingan Tisna Sanjaya dan kemudian digantikan oleh Ibu Nuning. Selama enam bulan itulah para seniman yang berpameran kali ini mengobrak-abrik beragam konvensi teknik grafis hingga akhirnya menyajikan hasil olahan kreativitasnya kepada publik.
Dalam catalog pameran, Albert Yonathan Setyawan (kurator), membahas persoalan teknik grafis sebagai salah satu hambatan bagi seniman grafis dalam wacana seni rupa kontemporer. Pun sebagai salah satu pijakan mengapa seni grafis harus terus berkembang saat ini dengan pemahaman baru yang dibantu juga oleh kemajuan perlatan teknologi masa kini.
Albert menulis, “Bagaimana kita memposisikan wacana seni grafis saat ini di tengah-tengah seni rupa kontemporer yang sangat cair.”
Pameran itu diikuti oleh 14 mahasiswa Jurusan Grafis – FSRD-ITB, Bandung, dengan judul “Apresiasi Grafis” di Galeri Soemardja, Bandung. Pameran berlangsung mulai tanggl 22 – 28 Februari 2008.
“Pameran grafis kali ini membuka wacana baru tentang pemanfaatan teknologi, yaitu teknik print digital,” ujar Ibu Nuning, dosen Grafis, FSRD-ITB, di Galeri Soemardja pada Sabtu (23/2) malam ketika membuka pameran tersebut.
Semangat para seniman dalam menampilkan karya grafisnya terlihat dari keberagaman tema yang diusung pada karyanya masing-masing. Misalnya, karya grafis dengan teknik cukil kayu yang diolah Bayu Kusumaditya yang berjudul “Gadis Di Batas Horizon”. Bayu mengemas nuansa motif batik dengan warna tanah seperti merah tua dan hitam keabu-abuan. Sosok gadis kecil dengan bunga digenggamannya nampak ekpresif dan menimbulkan rasa yang pekat tentang esensi kehadiran gadis kecil di depan bebatuan. Meski terkesan seperti gambar kartun, Bayu tetap konsisten dengan seni grafis.
Seperti dikatakan oleh curator pameran, bahwa seniman yang berpameran dalam Apresiasi Grafis itu masing-masing mengolah kepekaan objek di lingkungan sekitar sang seniman. Konteks ini memang nampak pada karya-karya yang disajikan dalam pameran ini. Bila kita apresiasi karya grafis dari Tisna Sanjaya, publik akan dibawa pada pemahaman konteks sosial dan politik. Karena Tisna Sanjaya selalu konsisten dengan wacana atau isu politik yang mainstream.
Namun pada sentuhan 14 seniman dalam pameran ini. Keluguan masing-masing seniman masih nampak kuat. Itu dapat dilihat pada karya Layla Aprilia pada judul karya “L.O.V.E.” Layla mengambil tema cinta yang universal. Teknik yang digunakan pun adalah digital print.
11 karya dengan memanfaatkan teknik digital print terpajang di dinding galeri dengan beragam tema dan objek yang dikemasnya. Teknik digital print seakan menjadi trend karya grafis pada generasi ini. Teknik ini, seperti diulas Nuning (dosen pembimbing), sudah menjadi paradigma kontemporer bagi seniman grafis saat ini. Hal ini juga mengingatkan kita pada karya Agus Suwage. Seniman yang sudah lama melanglangbuana ini sudah mengenalkan lukisan besar dengan medium digital print.
Seni grafis memang tidak semujur seni lukis yang dianggap lebih popular di antara pecinta karya seni. Namun sekali lagi, pameran ini juga, mulai merambah medium baru yaitu digital print. Seni grafis memang tidak sama proses kreatifnya dengan seni lukis, di mana sang seniman dapat lebih langsung mengekspresikan gagasan dan ide kreatifnya ke atas kanvas atau medium lainnya.
Kenyataannya, seni grafis bukan seni yang secara langsung dapat menjadi, karena ia harus melalui tahapan teknik cetak.
Meski demikian, seni grafis yang disajikan dalam pameran tersebut hendak mengoreksi wacana grafis saat ini. Persoalan estetika, akhirnya, kembali pada persepsi publik yang menikmatinya.
Theresia, 25 tahun, Senin (25/2) pagi berkunjung ke pameran ini bersama Mei, kawan kuliahnya. Meski kurang memahami seni grafis, Theresia dapat menikmati karya seni grafis secara awam. Bahwa seni grafis itu merupakan karya seni yang akrab. Dia mulai menyadari bahwa kaos bergambar yang dikenkannya adalah salah satu teknik grafis, yaitu teknik cetak saring.
“Saya kurang paham sebenarnya dengan seni grafis karena saya lebih mengenal seni lukis. Lukisan lebih ekspresif dalam menampilakn objek dengan warna yang secara langsung dapat dituangkan ke lukisan tersebut,” papar Theresia di Galeri Soemardja.
Apa yang disajikan dalam pameran grafis ini memang selaras dengan judul pamerannya. Para seniman bersama kurator hendak membuka wacana seni grafis dalam perkembangan terbaru. Seni grafis yang kini mulai digandrungi oleh kolektor seni di Jakarta, misalnya, menunjukkan bahwa seni grafis juga sama halnya dengan lukisan, bisa menjadi bahan apresiasi masyarakat saat ini.
Nuning juga mengatakan, trend penggunaan digital print oleh masyarakat saat ini member inspirasi kreatif terhadap kebakuan atau konvensi dari teknik membuat karya grafis.
Pada akhirnya, pameran ini membuka kesadaran public dan seniman grafis juga. Bagaimana mengedepankan karya grafis tanpa mempersoalkan konvensi teknik grafis itu sendiri. Bukankah teknik dalam seni grafis hanya sepenggal sejarah memorabilia dalam sejarah seni grafis.
Wacana grafis terus melaju seiring teknologi media yang kian memudahkan seniman grafis dalam berkarya. Grafis pun sudah kian akrab di antara kaum muda yang selalu berhubungan dengan perangkat teknologi dalam kehidupannya sehari-hari.
Sejak tahun 1990-an seni grafis cenderung meninggalkan teknik konvensional yang dimotori oleh seniman grafis di lingkungan akademis. Banyak eksplorasi yang dilakukan untuk mengembangkan wacana seni grafis hingga pada level fungsi seni grafis di masyarakat secara umum. Penggunaan poster yang berisi informasi pun tak ada bedanya dengan sejarah seni grafis pada mula abad 18, di mana seni grafis digunakan sebagai medium propaganda agama saat itu.
Kini, grafis berperan dalam pengembangan kreativitas kaum muda dalam mengolah media komunikasi yang tanpa disadari memuat arus budaya sejaman kepada public. Misalnya budaya komunitas distro di Bandung yang tak pernah lekang dari pengolahan seni grafis dalam menampilkan produk-produk sandang untuk konsumsi masyarakat kota yang berlibur ke Bandung. Dari fenomena itu saja dapat dilihat bahwa seni grafis sudah jauh meninggalkan titik pijakannya. Dari seni menjadi industri – pop art.
Semangat inilah yang hendak digulirkan oleh para seniman muda di Galeri Soemardja. Semangat yang lahir dari budaya sejamannya untuk terus berkembang menjadi identitas budayanya sendiri, dan estetika grafis sejamannya.
Arus budaya dalam grafis juga tak pelak lagi telah member banyak warna dalam khazanah seni rupa kontemporer saat ini. Selanjutnya tinggal bagaimana masyarakat dan seniman grafis mengolah dan memanfaatkan kemajuan teknologi ini untuk menuangkan gagasan dan ide kreatifnya. (Argus Firmansah/KOKTAIL/Bandung)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button