Serba Serbi

Dunia Urban dalam Koper Tua karya Hardiman Radjab

Koper-koper tua di ruang pameran bergantungan. Ada juga yang tergeletak dipulas dengan lumpur kering. Dan juga koper-koper yang diletakan di atas kotak. Semua koper-koper itu membawa cerita masing-masing. Hardiman Radjab mengatakan bahwa setiap koper memang mengisahkan sesuatu dari suatu persoalan atau renungan tentang hidup manusia yang disimbolkan pada koper-koper tua.

Perhatian Hardiman pada perilaku tubuh urban dikemas dalam serial koper bercerita itu yang diberi judul ‘Seri Kawin’. Koper pertama disetting dengan cerita atau adegan prototipe mobil volkwagen saling menindih layaknya tubuh-tubuh yang melakukan incest. Koper seri kedua adalah prototipe mobil jenis truk-bak yang sejenis. Hardiman memberi judul kecil perkawinan homoseksual. Koper seri ketiga dikemas sebuah perkawinan prototipe mobil Morris dengan sepatu sebagai simbol perkawinan silang. Koper ‘Seri Kawin’ itu ditempatkan oleh Hardiman diurutan pertama. “Saya mendesain penempatan semua koper-koper itu sesuatu dengan dramaturginya,” kata Hardiman. Dan koper ‘Seri Kawin’ ini banyak diapresiasi karena menimbulkan kelucuan darinya.

Mengapa Hardiman mengambil objek koper untuk mengantarkan pesan kemanusiaan secara artistik dalam bahasa seni desainnya? Koper, menurut Hardiman memiliki keunikan tersendiri sebagai benda yang berjalan, menjelajah ruang dan waktu. Koper-koper tua yang dilihatnya di sebuah stasiun di kota Paris pada tahun 1996 memberinya inspirasi bagaimana merenungkan nilai sebuah benda, koper, yang sudah tua, sendiri, ditinggalkan pemiliknya di sebuah kota atau ruang. Inspirasi itu kemudian memberinya gagasan untuk mengolah barang-barang bekas dan barang-barang tua usia di rumahnya untuk dihadirkan dalam eksistensi kebendaan yang lain. Selain memang hobi seorang Hardiman mengumpulkan barang-barang antik atau tua tentunya. Perhatiannya pada benda atau barang antik mengantarkan Hardiman ke ruang publik seni rupa untuk berdialog dalm dunia seni rupa.

Oleh sebab itulah Hardiman Radjab berpameran dengan judul “Berkoper-koper Cerita” pada Senin malam (22/10) di Geleri Soemardja, Bandung. Hendro Wiyanto, kurator pameran, dalam kurasinya yang berjudul “Koper, Panggung, Perjalanan” menyebutkan bahwa, kemunculan wacana �obyek� dalam seni rupa kontemporer antara lain dipicu oleh konflik dalam perkembangan seni lukis moderen-formalis. Konflik itu memasalahkan kehadiran �bentuk� (shape). Apakah �bentuk� dalam perkembangan seni lukis moderen telah bergeser menjadi �obyek� atau tetap sebagai medium seni lukis? (Ingatlah misalnya lukisan-lukisan bersegi banyak karya Frank Stella).

Hardiman Radjab dengan latar belakang seni kriya kayu di Institut Kesenian Jakarta, lebih eksis sebagai penata artistik panggung pertunjukan teater/drama di beberapa kota. Kedekatan Hardiman pada dunia artistik panggung teater diakuinya sebagai salah satu metode menata sebuah pameran untuk menampilkan karya-karyanya di ruang publik. Oleh sebab itulah, koper-koper Hardiman yang dipamerkan kali ini memang syarat dengan pengolahan dramaturgi, atau ilmu tentang seni drama. hal itu ditunjukan dengan plot penataan objek pameran dengan kopernya yang sangat memperhatikan struktur cerita, meski tidak melepaskan kaidah menampilkan karya rupa di ruang pameran.

Hendro Winarto menegaskan campur-tangan unsur teater pada pamerannya dengan mengatakan, “Pada obyek-obyek koper ini malahan seperti terang-terangan Hardiman memasukkan anasir �teater� atau mengoper panggung teater ke dalam koper. Beberapa karyanya dalam pameran ini memetik inspirasinya dari panggung pertunjukan teater. Memang, kita tak lagi hidup di jaman seni rupa formalis, dan konflik antara (wacana) seni rupa dan (kondisi) teatrikal yang dianggap sebagai musuh seni rupa �murni� itu juga tak pernah ada di lingkungan seni rupa kita.

“Saya memang belajar banyak dari teater. Tapi proses kreatif koper ini saya mengambil dari berbagai tulisan, berita di surat kabar, dan lain-lain,” jelas Hardiman. Dengan latar itu, Hardiman Radjab yang memanfaatkan bentuk dan ruang yang �menjadi� dalam koper, bahkan menghidupkannya (perhatikan, dalam pameran ini kopernya ada yang bisa �bernafas�), memberinya isi dan tafsiran macam-macam menjadi menarik karena kesuntukannya menggarap single-minded medium koper”, Hendro Winarto.

Koper-koper tua sebanyak 25 buah yang menjadi objek karya yang dipamerkan dibuat hidup layaknya tubuh manusia urban yang seringkali menemukan ruang kesendirian, krisis eksistensi di usia senja. Hardiman menyoroti tubuh-tubuh urban yang tak hentinya melakukan perjalanan, perpindahan ruang dan waktu, budaya serta keterasingan tubuh itu sendiri.

Tubuh dalam keterasingan divisualkan oleh Hardiman melaluis sebuah etalase koper tua yang sudah menjelajahi dunia melalui terminal atau stasiun dengan sebuah video art karya Aciel Ilyas. Pengunjung pameran dapat menyaksikan bagaimana sebuah koper tua ditinggalkan di ruang-ruang publik hingga terjebak dalam keterasingan di usia senjanya. Koper itu direkayasa seolah tubuh manusia yang memiliki organ wajah dan mata. Mata koper itu terus meneteskan air mata sehingga nampak hidup yang bukan lagi sebagai koper, tapi menjadi sesuatu tubuh yang hidup dan memiliki rasa. Hardiman sengaja memamerkan objek koper seperti itu karena keprihatinannya terhadap benda (koper tua) antik yang ditinggalkan padahal ia sudah berjasa mendampingi kebutuhan tubuh manusia dalam perjalanan-perjalanan.

Hardiman “menjadikan” koper sebagai medium untuk memaknai sebuah benda dalam ruang publik dengan sudut pandang yang unik dan jeli, bahkan luar biasa karena tidak semua orang berkenan meluangkan waktu untuk memberi makna terhadap sebuah benda atau tubuh. Tak heran bila hardiman mengusung judul “Berkoper-koper Cerita” karena memang di dalam koper yang terbatas volume ruangnya dapat diisi dengan sebuah makna lain yang tidak sekedar tempat menimpan barang atau benda dalam sebuah perjalanan. tidak hanya itu, Hardiman juga mengungkapkan kehidupan tubuh-tubuh urban di perkotaan dengan kehidupan malamnya. Diskotek atau klab malam yang menjajakan wanita-wanita cantik juga disajikan oleh Hardiman dengan sangat detil dan rinci dalam skala ukurannya pada kopernya yang berjudul ‘Red Light’. Lagi-lagi, kemampuan Hardiman dalam membuat panggung pertunjukan ditunjukan dengan membuat koper-koper tua yang isinya sebuah fenomena sosial tubuh-tubuh urban yang sering kita temui di sekitar kita.

Profesi Hardiman sebagai penata artistik panggung teater/drama terlihat sangat kuat pada kopernya yang berjudul ‘Coffee Break’. Di dalam koper itu Hardiman membuat setting panggung sebuah bar di mana seorang napi yang kakinya dirantai pada sebuah bola besi besar dan sherrif sedang duduk bersama membincangkan sesuatu. Juga pada koper yang diberi judul ‘Rest In Peace’ di mana pemakaman seseorang dirancang dengan fasilitas lengkap layaknya seseorang yang masih hidup, lengkap dengan lemari berisi emas dan ruang sanati yang ada televisinya.

Koper-koper tua itu oleh Hardiman menjadi ruang diskursif tentang makna dan keberadaan entitas tubuh ataupun persoalan lingkungan. dalam koper yang diberi judul ‘So Much Trouble’, Hardiman membuat prototipe bencana alam lumpur lapindo yang menenggelamkan sebauh desa dan Hardiman membuat tiang dengan bendera setengah tiang di sana. Koper itu barangkali mewakili kepekaan sosial Hardiman terhadap persoalan lingkungan di Indonesia yang hingga kini tidak kunjung tuntas.

Pameran ini banyak mendapat sambutan baik dari para pengunjung. Rata-rata mereka terkesan dengan rancangan koper-koper tua yang diisi dengan cerita-cerita menarik seputar kehidupan manusia urban di perkotaan. Sehingga para pengunjung tidak perlu mengerutkan dahi untuk menafsir sebuah makna atau pesan dari koper-koper tua dengan masing-mnasing cerita di dalmnya. Dalam komentar para pengunjung pameran saya menemukan sebuah tulisan dari seorang teman Hardiman. “Aku bangga dengan kamu. 27 tahun yang lalu kamu teman SMAku yang ‘tidak terlalu hebat’ alias biasa saja tapi…sekarang kamu ‘hebat, luar biasa….’,” tulis Sofi dari Malang.

Hobi mengumpulkan barang antik tidak disia-siakan oleh Hardiman Radjab. Ia dapat memberi makna lain dari sebuah barang antik bernama koper sehingga menjadi benda lain yang unik. Hendro Wiyanto menambahkan, wacana obyek di lingkungan seni rupa kontemporer kita datang begitu saja dalam satu dekade terakhir ini. Misalnya sebagai perluasan gagasan trimatra dari para pelukis atau permainan yang mengasyikkan perihal skala oleh para pematung. Para perupa dari lingkungan kriya-seni menyambutnya dengan bermacam-macam pendekatan: olahan bentuk baru yang menyimpang dari tradisi dan fungsi wadah, pencampuran bahan, mengkopi atau mengapropriasi bentuk yang ada.

Dunia urban di dalam koper-koper itu menjadi bahan apresiasi yang menarik bagi pengunjung pameran. Kehidupan manusia atau tubuh-tubuh itu dapat dimampatkan dalam sebuah koper yang sudah menjadi medium untuk berkomunikasi, baik itu antarobjek maupun dengan apresian. Terutama bagi perupa yang memilih olahan garap di luar mainstream seni rupa modern di Indonesia saat kini, seperti lukisan atau patung misalnya. Melalui pameran Hardiman dengan koper-koper tuanya inilah para seniman kriya dapat lebih leluasa mengekplorasi bentuk seni untuk mengekspresikan gagasan seninya dengan cerapan sosial yang dipilihnya.

Meskipun dapat dikatakan unik dan segmented, pameran semacam ini banyak dilirik oleh penikmat seni di Indonesia karena mereka dapat melihat susudt pandang lain terhadap karya seni dalam membaca jaman atau fenomena sosial budaya di Indonesia. Toh, pameran Hardiman dapat diterima publik karena bahasa seni khas yang dimilikinya yaitu seni kriya. (Argus Firmansah, Kontributor KOKTAIL/Jurnal Nasional, wartawan lepas tinggal di Bandung)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button