Serba Serbi

Invalid Beauty; Destructive View by Invalid Urban

Invalid Beauty, itulah tajuk pameran Invalid Urban, komunitas visual art dari Bandung yang digagas oleh Nandanggawe (perupa Bandung). Invalid beauty merupakan episode tahun 2007 setelah cukup lama absen di peristiwa seni rupa Bandung.
Invalid Beauty, begitulah istilah yang digunakan oleh sekumpulan perupa yang terorganisir dalam sindikat Invalid Urban. Meski tidak hanya karya Nandanggawe yang tampil dalam etalase karya yang dipamerkan di auditorium Center Culture Franch (CCF) Bandung 17 -21 April 2007.
Kesemrawutan. Barangkali kata ini menjadi penanda dalam representasi gagasan sekelompok peruma muda asal Bandung (mahasiswa STSI Bandung dan fotografer invalid-Angga Permana) dalam melihat keindahan, estetika saat ini. Konsep kekinian dalam memandang fenomena sosial di konstelasi metropolitan Bandung. Mengapa Invalid, karena keindahan itu memang invalid di dalam ruang simulakrum tanda-tanda yang silih berganti, berganti kulit, berganti identitas, bahkan berganti bentuk.
Besi, bahan metal, keras menjadi suasana pameran Invalid Beauty ini. Secara kasat mata, pameran ini seperti sebuah ruang barang bekas yang ditata secara estetika oleh senimannya. Dalam diskusi yang diselenggarakan pada akhir pameran ini, lucunya, muncul opini dalam ruang perseteruan konsep dan interpretasi terhadap Invalid Beauty bahwa Nandanggawe sebagai ikon komunitas-sindikasi Invalid Urban. Tentu saja, Angga Permana-sang fotografer invalid- menepis opini itu. “Eta lolobana karya aing…aing nu ngelas elemen estetik na” (Itu banyak karya saya…saya yang mengelas elemen estetisnya). Ketus Angga di Terminus caffe (CCF Bandung) ini membuat kawan-kawan yang mengunjungi pameran heran. Why? Kemudian, Angga bergegas ke dalam ruang pamer untuk menghancurkan karyanya sendiri dengan kapak yang digantungnya di sabuk celana belakangnya. Entah apa yang terjadi, apakah memang dia menghancurkan karyanya itu? Saya tidak hadir dalam peristiwa itu.
Invalid Beauty adalah simbol interpretasi anak-anak muda yang masih belajar memahami dan berkarya di wilayah visual art. Penanda-penanda peradaban maju dan globalisasi mendominasi perhelatan seni rupa ini. Sehingga, gambar-gambar (karya Nandanggawe) tidak dominan bicara dalam perseteruan tanda di ruang simulakrum-ruang pamer itu. Penanda-penanda berupa elemen teknologi dirumahkan oleh seniman muda ini sebagai instalasi megah sekaligus kumuh – seperti yang saya bilang tadi…seperti gudang barang bekas. Inilah yang kemudian menjadi kesimpulan atau katarsis seniman-seniman Invalid Urban, bahwa kemajuan teknologi yang mengeliminasi nilai-nilai humanis akhirnya menjadi sampah-sampah jaman, sampah-sampah peradaban, dan akan seterusnya demikian.
Invalid Beauty, sebuah interpretasi atas keindahan yang sempurna di balik keindahannya yang cacat atau destruktif. (Bandung, 21 April 2007)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button