Serba Serbi

Mass Movement atau Penggemar

Artis/tokoh komedian populer di layar kaca, Extravaganza, berjumpa dengan pemirsanya dalam sebuah ajang temu penggemar tayangan televisi di BandungSuper Mall, Bandung, 8 April 2007. TransTV sebagai penyelenggara event tidak saja gembira dengan terlaksananya event tersebut, BSM juga gembira karena jumlah pengunjung ke Mall terbesar pertama di Bandung itu diserbu masyarakat se-Bandung raya pagi itu. Entah itu meningkatkan penjualan barang konsumsi di Mall itu, ataupun hanya numpang lewat saja, tetap menggembirakan dilihat dari sudut pandang promosi berjama’ah itu.

Event tersebut bukan hanya “jumpa fans” semata bagi Tim Produksi tayangan hiburan itu, karena sinyalir Extravaganza melakukan promo program di sana, yaitu pemilihan tokoh favorit dari Extravaganza dan promo rekrutmen pemain Extravaganza. Inilah misi TransTV menggelar jumpa penggemar dalam rangka perayaan Ultah Extravaganza ke-3.

Massa hari itu membludak hingga membuat macet lalu lintas sepanjang jalan Gatot Subroto. Mereka yang datang dengan menggunakan angkutan kota, sepeda motor, hingga mobil pribadi, bahkan tidak sedikit yang berjalan kaki dari tempat tinggal mereka, memadati kawasan Mall itu sejak pukul 07.00 wib. Tidak hanya orang tua yang datang dengan menggendong bayi dan anak-anaknya, remaja Bandung yang semi glamor dan gaul juga tidak absen di sana. Semua datang ke Mall untuk melihat aksi artis-artis Extravagansa.

Satu per satu artis Extravaganza naik ke atas panggung setelah sajian hiburan pembuka dari kelompok musik yang berasal dari komunitas sponsor event tersebut. Suara riuh dalam penantian sang idola berhamburan. Tora Sudiro dan Aming memang paling banyak mendapat sambutan dari massa yang datang saat itu. Kemudian mereka menampilkan kelompok karakter/tokoh di atas panggung secara bergantian dengan durasi yang singkat.

Di hadapan mereka yang tampil sebagai idola dalam tayangan televisi, ada banyak remaja yang sesak untuk bernafas, ada banyak kaki yang sulit melangkah, ada banyak tubuh yang keringatnya bercucuran, semua karena aksi massa itu seakan menyempitkan ruang untuk bernafas. Ratusan orang berkumpul di depan panggung yang dibatasi oleh sebuah baricade keamanan dan trali-besi.

Bandung pun terasa panas, padahal hanya di kawasan itu Mall saja. Namun itulah cermin mass movement di kota Bandung. Sebuah luapan rasa rindu massa untuk berjumpa sang idola mereka meski dalam jarak yang relatif dekat. Mereka rela mematung di tengah kerumunan orang banyak. Mereka rela bercucuran keringat. Mereka rela gila harus pingsan di tengah himpitan orang banyak. Itu semua adalah sebuah pengorbanan untuk suatu aksi massa. Demi berjumpa artis dari jarak dekat.

Inilah sebuah bentuk agama kontemporer di kota Bandung – Idolism. Kawan saya dari Jerman, Ratna Rodelsperger, pernah mengatakan dalam sebuah diskusi santai di halaman sebuah kampus, di Bandung Timur. Bahwa Idolism sudah menjadi agama alternatif di jaman sekarang. Bentuk budayanya tidak tunggal, jamak, paradoks, rumit, praktis, dan sarat sinkretisme nilai-nilai yang dianut massa jaman kini.

Idolisme ini secara terselubung menumbangkan kekuatan agama-agama besar yang ada di tiap negara. Idolisme sangat tidak acuh terhadap kemapanan sebuah nilai yang hidup di sebuah komunitas hidup manusia. Meski awalnya merupakan bentuk budaya, Idolisme atau Mass Movement ini menyusun konstruksi spiritualnya secara sistematis dan pragmatis sekaligus destruktif.

Inilah sebuah bentuk simbolik dari peradaban manusia secara global. Dan…hhhmm…fenomena kehidupan manusia di Bandung merupakan sebagian kecil dari budaya dan agama Idolisme global.
Tertarik mengkaji? MAU? please…precceding..

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button