Lokus

Kelola

Organisasi apakah Kelola?
Berdiri sejak tahun 1999, Kelola adalah organisasi nirlaba berjangkauan nasional yang memberikan perhatian pada perkembangan seni baik musik, tari, teater, dan visual di Indonesia agar terus hidup dan berdaya saing di dunia internasional.

Apa visi Kelola?
Mengembangkan keberagaman seni budaya di Indonesia sehingga mampu berkompetisi di dunia internasional.

Apa misi Kelola?
Memberikan dukungan dengan menyediakan peluang belajar, akses pendanaan, informasi bagi seniman, praktisi, dan pelaku seni di seluruh Indonesia melalui pertukaran budaya antar pelaku seni di seluruh dunia.

Bagaimana program Kelola dilaksanakan?
Pendaftaran mengikuti program-program Kelola dilakukan secara terbuka melalui media online di website Kelola (www.kelola.or.id). Pelamar dipilih melalui proses yang transparan oleh suatu tim seleksi yang keanggotaannya berganti-ganti.

Apa saja program-program Kelola?

HIBAH SENI
Menanggapi kebutuhan pendanaan untuk seni pertunjukan, Hibah Seni menawarkan bantuan dana produksi untuk seniman perorangan maupun kelompok kesenian untuk mewujudkan karya seni pertunjukan.

HIBAH SENI terdiri dari dua kategori; Karya Inovatif dan Pentas Keliling. Karya Inovatif ditujukan untuk karya seni yang mencari dan mengedepankan unsur-unsur kebaruan dalam seni. Pentas Keliling diberikan agar karya seni terpilih dan telah dipentaskan di suatu kota dapat dilihat penonton baru di kota-kota lain, termask pementasan kelompok tradisi.

Program ini terbuka bagi seniman dan akan diseleksi oleh Tim Pakar Independen terpilih. Peraih hibah diminta untuk memberikan laporan tertulis, dokumentasi video dan foto, catatan penggunaan dana sehingga secara tidak langsung seniman dapat mengasah ketrampilan manajemen mereka.

Sejumlah 500 seni pertunjukan berhasil diwujudkan melalui HIBAH SENI KELOLA sejak tahun 2001.

EMPOWERING WOMEN ARTISTS (EWA)
Program ini dikembangkan sebagai tanggapan terhadap sutradara teater, koreografer, dan komposer perempuan yang masih sedikit di Indonesia. Kelola memulai program ini di tahun 2007 untuk menyuarakan kurang terwakilinya perempuan khususnya di bidang seni pertunjukan.

Seniman perempuan terpilih berkesempatan mewujudkan dua karya pertunjukan dalam rentang waktu dua tahun berturut-turut. Untuk pembekalan artistik, penguatan konsep dan kemampuan manajerial, seniman berkesempatan mengikuti lokakarya yang dirancang khusus untuk kebutuhan peraih EWA, di samping pedampingan oleh pakar seni budaya dalam proses berkarya.

Sampai sekarang, EWA telah memberikan kesempatan bagi 12 seniman perempuan untuk mewujudkan 54 karya seni pertunjukan.

MAGANG NUSANTARA DAN MAGANG INTERNASIONAL
Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang seni, melalui praktek kerja di organisasi seni budaya dalam maupun luar negeri.

Melalui Magang Nusantara yang dilaksanakan oleh masing-masing tuan rumah di Indonesia, peraih magang belajar bagaimana mengelola organisasi budaya atau sanggar, penyusunan program, manajemen panggung hingga perfilman.

Kelola menjalin kerja sama dengan CCF- IFI Jakarta, Goethe Institut, JIFFEST, Kineforum, Museum dan Gaeri Foto Antara, Teater Koma, The Japan Foundation, Teater Satu, Saung Angklung Udjo, Selasar Sunaryo Art Space, LIP – IFI Yogyakarta, Sanggar Tari Didik Nini Thowok, Teater Garasi, dan Yayasan Bagong Kussudiardja untuk menjadi tuan rumah Magang Nusantara.

Sedangkan untuk Magang Internasional, Kelola bekerja sama dengan The Asian Cultural Council di New York dan The Asialink Centre di Melbourne.

MAGANG NUSANTARA telah membuka kesempatan belajar bagi 143 pelaku seni Indonesia sementara MAGANG INTERNASIONAL sebanyak 39 orang.

TEATER PEMBERDAYAAN
Teater Pemberdayaan adalah program perintis yang dirancang untuk memicu kreatifitas masyarakat dalam upaya menanggapi kondisi sosial terkini di lingkungan mereka. Teater adalah medium yang tepat, karena bisa meresap dan menyatukan semua kreatifitas yang muncul. Program yang dikembangkan dengan dasar metode forum teater Augusto Boal terselenggara atas kerjasama Kelola dengan Theatre Embassy.

Untuk memperkenalkan metode tersebut, Kelola mengadakan berbagai lokakarya agar masyarakat dan seniman dapat menyusun rencana kegiatan untuk menindaklanjuti isu sosial yang ada.

Sampai saat ini, TDE (Theatre for Development and Education) telah mengadakan lokakarya di beberapa komunitas di daerah-daerah di Indonesia dan melakukan pertunjukan teater antara lain “Tanah” dan “Bunga di Comberan”.

LOKAKARYA
Lokakarya bertujuan meningkatkan ketrampilan serta pengetahuan melalui diskusi intensif dan kegiatan pembelajaran bersama pakar-pakar nasional maupun internasional di bidang manajemen dan pengembangan artistik.

Lokakarya yang diselenggarakan Kelola terdiri dari Lokakarya Manajemen Proyek Pertunjukan Seni, Lokakarya Tematik, dan Lokakarya Manajemen Budaya.

Beberapa lokakarya yang pernah dilakukan Kelola antara lain:
Lokakarya Manajeman Festival oleh Ian Pidd
Lokakarya Tata Cahaya oleh Clifton Taylor
Lokakarya Tari oleh Astad Deboo
Lokakarya Tata Panggung oleh Bert Neumann
Lokakarya Kuratorial oleh Malcolm Smith
Lokakarya Internasional Touring oleh Rachel Cooper
dan masih banyak lagi.

Kelola sudah menawarkan LOKAKARYA kepada 1248 praktisi seni, dari 300 organisasi di 26 provinsi di Indonesia.

Kegiatan apa saja yang dilakukan Kelola di luar program-programnya?
Melalui website www.kelola.or.id, Kelola membuka kesempatan bagi para pelaku seni untuk menjalin komunikasi dan mengambil manfaat dari serangkaian informasi dan kesempatan yang tersedia di berbagai bagian dunia.

Direktori online di website Kelola memuat data sekitar 3,600 organisasi seni dan budaya di Indonesia. Melalui DATABASE yang ditampilkan di website, Kelola berupaya untuk mendokumentasikan profil dan karya dari para seniman pertunjukan di Indonesia.

Siapa saja donatur Kelola?
Sejak tahun 1999, program-program Kelola dapat terlaksana atas kepercayaan, dukungan, dan kerjasama dari First State Investments Indonesia, HIVOS, The Asian Council Center, The Asialink Centre – University of Melbourne, The Ford Foundation, UNESCO – Aschberg Bursaries, The Japan Foudantion, Japan Social Development Fund – World Bank, Biyan Wanaatmadja, dan donatur perorangaan.

source: kelola.or.id/kelola/faq

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button