Wacana

PAMOR BANDAR MAKASSAR YANG HILANG DARI NIAGA KE KOTA METROPOLIS

Oleh  A. Rasyid Asba 

Beliau adalah  Ketua  Program Ilmu Sejarah Pascasarjana  Universitas `Hasanudin. Kini juga menjabat sebagai  Ketua Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Hasanuddin .  Makalah ini disampaikan dalam  Seminar Sehari Perhimpunan  Pencinta Bandar Lama  Nusantara Pusaka Bangsa di Makassar tanggal 11 Juni 2006
Pendahuluan
Orang terkadang mengatakan bahwa Makassar cukup dikenal karena berkembangnya beribu-ribu rumah toko menghiasi kota Makassar. Sebutlah misalnya Tanjung Bunga, Diamond, Sentral Plaza, Carrefour Panakukang  dan lain-lain. Orang tersebut  sedikit terganggu oleh penyakit  annestesia sejarah. Ia tidak mengenal Sombaopu sebagai  kota peradaban dunia di masa lalu. Ia tidak mengenang pelabuhan Makassar  sebagai  tempat beraktivitasnya manusia dari berbagai penjuru suku bangsa di dunia. Bahkan  Makassar bukan  hanya dibangun  sebagai bandar niaga, tetapi ia juga  sebagai kota industri yang ternama di masa  kolonial. Makassar  dijadikan  sebagai kota maritim yang modern untuk menerkam  Singapura yang  terus meroket perkembangannya. Lalu apa Makassar yang bisa dibanggakan kecuali meroketnya gedung-gedung ruko pertokoan, spirit orang-orang Makassar dalam menguasai teknologi pelayaran, jiwa dan roh sebagai  penguasa laut dan raja laut sudah hilang. Makalah ini akan meguraikan  bagaimana Makassar dibangun sebagai kota maritim   di masa Akhir Kolonial. Berbagai kosekuensinya sebagai  kota maritim  (aktivitas niaga) yang berdampak pada munculnya Makassar sebagai kota industri  dan perbankan. 
Sekilas  Makassar Sebagai Kota Maritim
Munculnya  Makassar salah satu etnis maritim  dalam  percaturan politik ekonomi Nusantara  tidak terpisahkan dari usaha kerajaan Gowa membangun diri sebagai kerajaan maritim utama di Indonesia Timur. Usaha-usaha itu antara lain  adalah  menguasai daerah-daerah pedalamam Bugis penghasil beras dan hasil hutannya. Itulah sebabnya terjadi perang penaklukkan atas kerajaan-kerajaan Bugis di pedalaman sejak awal abad 16. Gowa sebagai simbol kerajaan Gowa yang berdaulat  juga  menguasai jalur pelayaran dan perdagangan di Indonesia Timur dengan menempatkan  Somba Opu sebagai pelabuhan transito utama bagi perdagangan rempah dari Maluku. Dalam memperkuat posisinya  itu  Kerajaan Gowa  berusaha menjalin kerjasama dan hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan luar dan menjadikan Somba Opu sebagai  benua Maritim dengan menempatkan Kerajaan Tallo sebagai pusat teknologi perkapalan. Untuk mewujudkan sebagai kerajaan maritim yang kuat maka dibangun angkatan perang yang kuat dengan sistem birokrasi yang modern. Untuk meningkatkan ekonomi maka kerajaan Gowa juga memperdagangkan Budak. Perdagangan budak ini   dianggap penting karena dapat memberi penghasilan yang tinggi pada kerajaan tanpa perlu bekrja keras, karena komoditas budak diperoleh sejalan dengan perang penaklukan dari berbagai wilayah di Indonesia Timur.
Sampai tahun 1669 perdagangan budak masih merupakan mata dagangan utama yang secara formal dikelola oleh kerajaan Gowa. Jaringan perdagangan ini meliputi Kalimantan Utara, Timur, Manggarai, Tanimbar, sula dan Alor. Budak-budak dari daerah ini diperdagangkan ke Banjarmasin, ke Palembang, Jambi, Aceh, Johor, Sukadana, dan Batavia, Perdagangan budak ini dilakukan melalui sistim berter dengan berbagai produk luar. Cindai dan sutra, dua di antara komoditas barter yang utama, Beberapa sumber menyebutkan bahwa orang-orang Makassar memperoleh juga budak dari Buton, ternate, Kepulauan Sulu dan pulau-pulau sekitarnya. Dalam subuah catatan disebut bahwa, ditahun 1665 sekitar 200 armada perahu dagang Makassar yang dilengkapi persenjataan dan prajurit menjelajah dikepulauan Sulu melakukan “penaklukan” dan penangkapan penduduk untuk dijadikan budak. Dalam expedisi tahun 1665 orang-orang Makassar memperoleh lebih seribu orang “Budak” ( Coolhous 1960 – 71.111,526). Karena melimpahnya budak di pasaran, terutama yang berasal dri Indonesia Timur dan Bali, muncul kecurigaan di Batavia dan menyebar issu yang mengarah larangan agar tidak membeli budak dari Makassar dan Bali. Kecurigaan itu berasal dari dugaan bahwa orang-orang yang diperdagangkan sebagai budak, ternyata bukan budak dalam arti yang susungguhnya, tetapi orang-orang yang ditangkap secara paksa dengan kekerasan, ditaklukkan,diikat dan dijual sebagi budak, Sekalipun kerajaan Gowa jatuh 1669, tetapi jaringan perdagangan budak di Indonesia timur masih berlangsung hingga abad ke 19.
Dalam kapastiannya selaku pusat perdagangan Indonesia Timur. Kerajaan Gowa sebenarnya tidak hanya didukung oleh faktor geografisnya sebagai pintu gerbang Indonesia Timur, tetapi juga karena kekuatan armada lautnya yang mampu mengontrol kawasan perdagangan seluas itu. Semua ini dapat terjadi karena adanya tradisi kemaritiman orang-orang Makassar yang sangat  tinggi. Dapat dikatakan bahwa sampai saat ini belum ada yang dapat menandingi keahlian tradisional orang-orang Makassar Bugis dalam bidang industri semacam itulah mempercepat terjadinya/adanya pengakuan-pengakuan internasional tentang perang Kerajaan Gowa yang berpusat di Somba Opu   sebagai pusat kegiatan perdagangan Indonesia Timur di abad 16-17.
  Dalam Naskah lontarak huruf serang berbahasa melayu milik Imam Bojo disebutkan bahwa datangnya migram Melayu di tahun 1548 yang dipimpin oleh “Seorang Kapten Kapal Jawa” yang bernama “Nakhoda Bonang”. Mereka datang dan meminta kepada Raja Gowa Tunipallangga ( 1548 –1566) agar para pedagang-pedagang asal Melayu diizinkan tinggal di Somba Opu. Mereka juga meminta perlindungan dan jaminan keamanan di kawasan itu. Adapun  permintaan Nakhoda Bonang kepada Raja Gowa:
Jangan memasuki halaman kami tanpa seizin kami
Jangan naik ke rumah tanpa seizin kami
Jangan memperlakukan hukuman “Nigayung” pada anak-anak kami
Jangan memperlakukan hukuman Nirappung bila ada diantara kami yang bersalah.
Keempat poin merupakan hak teritorial dan kekebalan diplomatik atas pedagang-pedagang Melayu yang dikeluarkan oleh kerajaan Gowa abad ke 16 ini dapat menjadi petunjuk betapa majunya budaya kemaritiman  ketika itu. Perjanjian ini juga dapat dianggap sebagai satu kesepakatan politik dalam diplomasi perdagangan tertua di Indonesia Timur. Dalam satu dialog ketika perjanjian itu akan disyakan Raja Gowa bertanya kepada Nakhoda Bonang : “Berapa jenis (orang) yang kau maksudkan dalam permintaan itu”  Nakhoda Bonang menjawab:  semua kami yang bersarung ikat (Ma’lepa baraya) Mereka adalah orang Pahang, orang Petani, orang Campa, orang Minangkabau dan Orang Johor”. Sejak saat itulah orang-orang Melayu menetap dan mempunyai perkampungan maritim  Makassar. Banyak di antara mereka kemudian menjadi petinggi di Kerajaan Gowa, sebagai jabatan Syahbandar, Juru tulis, dan penasehat raja didominasi oleh orang Melayu sedangkan orang-orang Makassar lebih banyak menguasai teknologi di bidang kemaritiman, sebutlah misalnya Karaeng Patingalloang .
Makalah lengkap silakan download disini

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button