Wacana

Basa Cerbon, Bukan Dialek Bahasa Jawa

Muhammad Luthfi Harits

Tadi malam, tepatnya malam minggu, kumpulan para single (tapi bukan jomblo. Perlu dibedakan lho… antara jomblo dan singel, single adalah pilihan sedangkan jomblo adalah nasib) melampiaskan ke-single-an kita di malam minggu yang katanya malam pacaran, akhirnya temen-temen mengajak nongkrong di sebuah lesehan wédhang suhe (susu jahe), yang bikin menarik squad tongkrongan berasal dari berbagai daerah, saya sendiri berasal dari Cirebon, ada yang berasal dari Banyumas, Sunda, Serang (Banten), Lamongan, Bojonegoro dan Jakarta. Suasana malam yang berpurama membuat perbincangan kita semakin asyik. Namun tengah-tengah perbincangan, ada sedikit ketidak-adilan di situ, karena temen-temen yang berasal dari Jawa lebih mendominasi, jadi perbincangan kita lebih banyak menggunakan bahasa Jawa, sedangkan yang non-Jawa tidak mengerti bahasa kita (Jawa), sesekali juga kita terjemahkan ke bahasa Indonesia agar perbincangan kita semakin nyambung. Malam agak sedikit larut dan mendingin, gelaka tawa dan batangan rokok entah sudah berapa banyak kita nikmati, disela-sela perbincangan salah satu temen bilang: “bukannya Cirebon bahasanya Sunda…?”, kata dia tanya padaku, jawabku: “Cirebon punya bahasa sendiri, ya emang si ada sebagian daerah yang pake bahasa Sunda, tapi daerah gue pake bahasa Cerbon, beda dengan bahasa Jateng dan Jatim. kita punya bahasa sendiri lho…”. dia tanya lagi: “tapi kok agak mirip ya ama bahasa Jateng dan Jatim…?”, jawabku: “ya emang agak mirip, tapi Cirebon punya karakter bahasanya sendiri, bukan Jawa dan bukan juga Sunda…”, dia melongo sambil menikmati rokoknya… dan bilang: “ooohh… gitu yaa…”.

Dari perbincangan semalam, ada sedikit rasa penasaran kepengen tau lebih spesifik tentang Bahasa Cirebon. Masa… seluk-beluk bahasa sendiri kok gak tau, apa kata dunia…!!!. tak pikir lama, langsung berbrowsing ria mencari keyword “Bahasa Cirebon”. Muncullah berderet listpage, sebagian artikel telah saya simak dan saya simpulkan. Dan mari kita telanjangi bersama seluk-beluk bahasa Cirebon…

Bahasa Cirebon atau lebih dikenal Basa Cerbon, adalah budaya bahasa yang dituturkan oleh masyarakat Pesisir Utara (Pantura) atau Jawa Barat, Basa Cerbon secara umum dituturkan oleh masyarakat Cirebon, Indramayu, Subang, sebagian masyarakat di daerah Karawang, sebagain warga perbatasan Cirebon-Majalengka, sebagian warga Serang (Banten) dan warga Losari (perbatasan Cirebon-Brebes). Yang membuat unik dari basa Cerbon ini adalah disetiap daerah mempunyai karakter dialek yang berbeda-beda dalam penuturannya.

Kali ini saya akan mengulas apakah Basa Cerbon adalah salah satu dialek Jawa, Sunda atau mandiri?. Secara personal, saya agak sedikit kurang terima—karena saya warga Cirebon, ketika basa Cerbon dijustifikasi sebagai dialek bahasa Jawa apalagi Sunda, melihat karakter basa Cerbon itu sendiri memang agak sedikit mirip dengan bahasa Jawa Wetan (Jateng dan Jatim), namun jika diamati dari kosa-kata dan gaya penuturannya ada perbedaan yang kentara antara karkater basa Cerbon dengan karakter bahasa Jawa, apalagi dengan bahasa Sunda yang tidak ada kemiripannya sama sekali. Dalam pada itu, eksisitensi basa Cerbon sebagai bahasa sempat diperdebatkan, apakah bahasa ini termasuk dialek Jawa, Sunda atau mandiri. perdebatan ini melibatkan faktor Politik Pemerintahan, Budaya serta Ilmu Kebahasaan

Metode penelitian Guiter memformulasikan bahwa untuk diakui sebagai sebuah bahasa tersendiri, suatu bahasa setidaknya membutuhkan sekitar 80% perbedaan dengan bahasa terdekatnya. Setelah dilakuakan penelitian, kosa kata bahasa Cirebon dengan bahasa Jawa di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 75 persen, sementara perbedaannya dengan dialek di Jawa Timur mencapai 76 persen. Metode penelitian tersebut mengindikasikan bahwa basa Cirebon termasuk dialek bahasa Jawa, karena perbedaannya kurang dari 80%. Memang hal ini dinilai lumrah karena demi kepentingan ilmu kebahasaan. Namun Perda Jabar No. 5 tahun 2003 tetap mengakui Cirebon sebagai bahasa bukan sebagai dialek. Menurut Kepala Balai Bahasa Bandung Muh. Abdul Khak, hal itu sah-sah saja karena perda adalah kajian politik. Dalam dunia kebahasaan menurut dia, satu bahasa bisa diakui atas dasar tiga hal. Pertama, bahasa atas dasar pengakuan oleh penuturnya, kedua, atas dasar politik, dan ketiga, atas dasar Linguistik.

Dari keterangan di atas, bahwa ada beberapa faktor diakuinya suatu bahasa atas tiga faktor: Pengakuan oleh Penutur, Politik dan Linguistik. Bahasa diakui atas dasar oleh penuturnya, asumsi saya—sebagai  pengguna setia basa Cerbon, sangat tidak setuju jika basa Cerbon dijustifikasi sebagai dialek bahasa Jawa apalagi Sunda, jika kita komparasikan dengan kedua bahasa tersebut terdapat banyak perbedaan dari kosa kata maupun gaya penuturannya, lagipula basa cirebon tidak banyak mengadopsi kosa kata Jawa dan Sunda, lebih banyak melahirkan kosa kata yang berasal dari basa Cerbon itu sendiri, artinya basa Cerbon atas dasar pengakuan dari penuturnya adalah bahasa yang berdiri sendiri (mandiri), jika sandainya dilakukan voting kuisioner kepada warga yang menggunakan basa Cerbon terkhusus masyarakat Cirebon, saya yakin mereka mengakuinya bahwa basa Cerbon adalah bahasa mandiri, dan tidak setuju jika basa cerbon adalah dialek Jawa apalagi Sunda.

Bahasa atas dasar politik, contoh lainnya bisa dilihat dari sejarah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang sebenarnya berakar dari bahasa Melayu, seharusnya dinamakan bahasa Melayu dialek Indonesia. Namun, atas dasar kepentingan politik, akhirnya bahasa Melayu yang berkembang di negara Indonesia –oleh pemerintah Indonesia– dinamakan dan diklaim sebagai bahasa Indonesia. Selain alasan politik, pengakuan Cirebon sebagai bahasa juga bisa ditinjau dari batasan wilayah geografis dalam perda itu. Abdul Khak mengatakan, Cirebon disebut sebagai dialek jika dilihat secara nasional dengan melibatkan bahasa Jawa. Artinya, ketika perda dibuat hanya dalam lingkup wilayah Jabar, Cirebon tidak memiliki pembanding kuat yaitu bahasa Jawa. Apalagi, dibandingkan dengan bahasa Melayu Betawi dan Sunda, Cirebon memang berbeda.

Dialek Basa Cerbon

Menurut Bapak Nurdin M. Noer Ketua Lembaga Basa lan Sastra Cirebon, Bahasa Cirebon memiliki setidaknya ada beberapa dialek, yakni Bahasa Cirebon dialek Dermayon atau yang dikenal sebagai Bahasa Indramayuan, Bahasa Cirebon dialek Jawareh (Jawa Sawareh) atau Bahasa Jawa Separuh, Bahasa Cirebon dialek Plered dan dialek Gegesik (Cirebon Barat wilayah Utara)

Bahasa Cirebon dialek Jawareh (Jawa Sawareh)

Dialek Jawareh atau disebut juga sebagai Jawa Sawareh (separuh) merupakan dialek dari Bahasa Cirebon yang berada disekitar perbatasan Kabupaten Cirebon dengan Brebes, atau sekitar Perbatasan dengan Kabupaten Majalengka dan Kuningan. Dialek Jawareh ini merupakan gabungan dari separuh Bahasa Jawa dan separuh bahasa Sunda.

Bahasa Cirebon dialek Dermayon

Dialek Dermayon merupakan dialek Bahasa Cirebon yang digunakan secara luas di wilayah Kabupaten Indramayu, menurut Metode Guiter, dialek Dermayon ini memiliki perbedaan sekitar 30% dengan Bahasa Cirebon sendiri. Ciri utama dari penutur dialek Dermayon adalah dengan menggunakan kata “Reang” sebagai sebutan untuk kata “Saya” dan bukannya menggunakan kata “Isun” seperti halnya yang digunakan oleh penutur Bahasa Cirebon.

Bahasa Cirebon dialek Plered (Cirebon Barat)

Dialek Plered merupakan dialek Bahasa Cirebon yang digunakan di wilayah sebelah barat Kabupaten Cirebon, dialek ini dikenal dengan cirinya yaitu penggunaan huruf “o” yang kental, misalkan pada Bahasa Cirebon standar menggunakan kata “Sira“, dialek Kabupaten Cirebon bagian Barat ini menggunakan kata “Siro” untuk mengartikan “Kamu”, kata “Apa” menjadi “Apo” dan Jendela menjadi “Jendelo“. Penutur dialek yang menempati kawasan barat Kabupaten Cirebon ini lebih mengekspresikan dirinya dengan sebutan “Wong Cirebon”, berbeda dengan Penduduk Kota Cirebon yang menggunakan Bahasa Cirebon standar (Sira) yang menyebut diri mereka sebagai “Tiang Grage”, walaupun antara “Wong Cirebon” dan “Tiang Grage” memiliki arti yang sama, yaitu “Orang Cirebon”

Bahasa Cirebon dialek Gegesik (Cirebon Barat wilayah utara)

Dialek Gegesik merupakan dialek yang digunakan di wilayah Cirebon Barat wilayah Utara disekitar Kecamatan Gegesik, Bahasa Cirebon dialek Gegesik sering digunakan dalam bahasa pengantar Pewayangan oleh Dalang dari Cirebon dan kemungkinan dialek ini lebih halus ketimbang dialeknya “wong cirebon” sendiri.

Sub-dialek di atas merupakan pembagian berdasarkan batasan geografis dan pembagian secara umum, namun sebetulnya masih banyak lagi dialek-dialek basa Cerbon yang terdapat di daerah-daerah tertentu, bahkan disetiap daerah dengan daerah lain terdapat perbedaan yang agak kentara dalam gaya pengucapan (intonasi) dan kosa katanya. Seperti halnya di daerah saya yaitu Kecamatan Susukan—bagian Cirebon paling Barat, memiliki gaya intonasi dan kosa kata yang berdeda dan lebih spesifik. Saya juga bingung, apakah dialek basa Cerbon yang kami tuturkan tergolong dialek dermayon atau bukan?, tapi yang jelas, yang kami rasakan dialek kami memiliki perbedaan yang mencolok dengan dialek dermayon, asumsi saya, bahwa dialek Basa Cerbon di daerah kami lebih tepatnya dinamakan dialek Susukan, begitupun daerah lain sesusai batasan geografisnya karena mempunyai perbedaan yang lebih spesifik, seperti dialek Ciwaringin, dialek Arjawinangun, dan daerah-daerah lain dengan dialeknya masing-masing. Menurut saya inilah sisi keunikan dari basa Cerbon yang memiliki multi-dialek.

Selain terdapat berbagai dialek, basa Cerbon juga memiliki tingkatan bahasa yaitu: Krama Inggil, Krama dan Ngoko. Seperti halnya yang terdapat pada bahasa Jawa baku, dan mempunyai kosa kata sendiri. Contoh: Ngoko: isun arep mangan (saya mau makan), dialek krama Inggil: kula bade dahar, Ngoko: isun karo sira arep lunga, Krama Inggil: kula kalian sampeyan bade kesa (saya dan kamu mau pergi), dan sebagainya. Lazimnya, penerapan tingkatan ini disesuaikan dengan lawan bicaranya, jika lawan bicara kita adalah teman sebaya, maka lazimnya menggunakan dialek Ngoko, berbeda pula jika lawan bicara kita secara umur lebih tua atau orang yang kita hormati, seperti, orang tua, guru, lazimnya menggunakan dialek Krama Inggil. Namun hal ini sangat disayangkan, penggunaan dialek Krama Inggil tidak banyak lagi diterapkan oleh penutur basa Cerbon, terkhusus warga Cirebon. Hal ini adalah pukulan mundur bagi kita, karena budaya bertata-krama Cirebon salah satunya adalah menerapkan budaya Krama Inggil ketika kita berbicara dengan orang tua maupun guru dan orang yang kita anggap layak dihormati.

Yang mengaku “wong cerbon”, jangalah kalian malu menggunakan basa Cerbon, kita apresiasi bahasa kita dengan membudayakan basa Cerbon dengan baik dan benar.

Ciputat, 27 Mei 2013

Dikutip dari Kompasiana.com

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button