Wacana

Asal-Usul Nama Rote dan Orang Rote serta Silsilah Suku-suku dan Marga (Family Name) dengka di Rote Ndao – NTT

Oleh: Yusuf Leonard Henuk. Penulis adalah Guru Besar di Fakultas Peternakan, Undana.

TULISAN ini diturunkan di media ini setelah terbentuk “Komunitas Dengka“ yang merupakan salah satu nusak (kerajaan) di Pulau Rote yang memiliki  alat musik “SASANDO” (http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/872/sasando-alat-musik-tradisional-dari-rote)  
dan Topi Kebanggaan : “TI’I LANGGA”:

CATATAN: “DENGLA” = “DENGKA”
Memiliki rencana untuk melakukan “Natal Komunitas Dengka se-NTT“ di Hotel Aston, 13 Desember 2014 (http://ylhnews.com/category/komunitas-dengka/)

I. Asal-usul Nama Pulau Rote di Rote Ndao
Dalam buku Land Taal & Volkenkunde Van Netherlands Indie (1854) dinyatakan bahwa pada sekitar abad 3 sesudah penduduk mendiami Pulau Rote, disebelah utara Pulau Rote muncul kapal-kapal Portugis sedang berlabuh dan mereka membutuhkan air minum. Di pantai mereka bertemu seorang nelayan dan bertanya, “Pulau ini bentuknya bagaimana?“ Nelayan ini menyangka bahwa mereka menanyakan namanya, sehingga nelayan itu menjawab, “Rote“ (Rote is Mijn Naam). Kapten (nakhoda) kapal Portugis ini menyangka bahwa bentuk pulau itu Rote, segera ia menamakan pulau itu Rote. Demikian seterusnya pulau ini disebut Rote.

Dalam arsip pemerintah Hindia Belanda pulau ini ditulis dengan nama ..“Rotti atau Rottij“ kemudian menjadi “Roti“. Akan tetapi, masyarakat Rote yang mempunyai sembilan dialek seringkali mereka menyebut pulau ini “Lote‘, khusus bagi mereka yang tidak bisa menyebut huruf “R“, padahal nama asli dari pulau ini adalah “Lolo Neo Do Tenu hatu“ (gelap) ada juga yang menyebut ..“Nes Do Male“ (layu), dan lainnya menyebut “Lino Do Nes“ (pulau yang sunyi dan tidak berpenghuni). Perbedaan dialek itu sebagian besar bersifat fonetis. Dialek-dialek Dengka dan Oenale menyimpang lebih banyak daripada dialek-dialek lainnya.

II. Asal-Usul Orang Rote dan Rumpun Marga Dengka di Rote Ndao
Kemungkinan orang Rote berasal dari Pulau Seram di Maluku, sesuai pernyataan Ormeling (1955: 72): ..“According to local myth the Rotenese, like certain group in Belu, originally came from Seram,..“. (http://id.scribd.com/doc/231963913/kebudayaan-rote-ndao).

Sebelum Rote Ndao terbentuk sebagai kabupaten definitif berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2002, Tanggal 11 Maret 2002:

Dengka merupakan salah satu dari 20 nusak (kerajaan) di Rote Ndao (http://tanahair.kompas.com/read/2013/03/21/14423449/Pulau.Rote.Merana.di.Beranda.Selatan) dengan julukan: “Oe Luat do Laba Oe“ dan nama ejekan : “Dengka Tafa Na’ak“ (Orang Dengka yang dimakan pedang) serta pernah memiliki Raja Dengka:

(1). Tongah Kotek (1854 – 1858);
(2). Adoe Tongah (1859 – 1890);
(3). Paulus Adoe Toenggah (1891 – 1903);
(4). Alexander Toenggah (1904 – 1906);
(5). Alexander Paulus Toenggah (1907 – 1911).

Suku-suku di Dengka termasuk dalam rumpun Elomuli, Takatein, Ndau, Ambik dan Balaoli. Adapun penyebaran marga-marga dari masing-masing rumpun sebagai berikut:

A. ELOMULI
(1). Elo (Raja): Elo, Lete, Laasar, Henuhanu, Abidano, Mba’u, Lani, Laasai, Mengge, Ndo’i, Ndao.
(2). Fando: Fek, Polo, Adu, Mole, Baik, Fanggitani, Henuk, Tasi, Ufi, Nafi.
(3). Tasioe : Saduk, Henuk, Poik, Mba’u, Detanelu, Nafi, Foes, Baluk, Nggonggoek, Nggoek, Pa’a.
(4). Luna: Lulupoy, Luna, Ambi, Bessie.
(5). Todak : Adu, Manuain, Eohndolu, Ndolueoh, Ndolu, Ledo, Sa’u, Fanggi, Donggi, Pandi, Henuk, Bute, Tobo, Nuiek, Mba’u, Pou, Langga, Moihana, Nafi, Ndun.
(6). Boluk : Eoh, Hanas, Foeh, Ndun, Adu, Bolu, Sula, Lona, Bandi, Nale, Henudelas, Fili, Sela, Haninuna, Koten, Medi.
(7). Busaleok (MboEtik): FoEs, Modok, Nasa, Bulu, Mboe, Ndun, Ndolu, Manu, Sula, Mone, Nggili, Lona, Helo, Fua, Neu, Ufi, Landak.
(8). Leoanak : nafi, Suek, lani, Hele, Adam.
(9). Mbau Umbuk: Henuhili, Modok.

B. TAKATEIN:
(1). Heniteik (Raja II): Tungga, Elimanafe, Ndaomanafe, Manafe, pah, Bunda, Ndun, Saudila, Nggili, Tongge, Mbor, Kana.
(2). Mbuiteik : Sula, Ndunfoes, Bessie, Hilli, Koten, Talak, Duli, Langge, Muda, Sodak, Lusi, Do’a, Dae, Se’ik, Moi, Dethan, Sely, Foeh, Adu, Ufi, Binloe, Dale.
(3). Sa’uteik : Soluk, Ndun, Tallo, Bulu, Loak, Mbuik, Sa’a, Lalai, Moy, Fanggi, Nggili, Lusi.
(4). Laniteik : Ndun, Kiu, Adulenggu.
(5). Leolu (fetor) : Nolu, Manu, Lau, Saduk, Adu, Pah, Lete, Mba’u, Kilak, Mo’e, Dethan, Busu, Fafok, Fek, Nafi, Lolo, Seuk.
(6). Bo’ai : Dano, Ledo, Lusi, Sula, Modok, Foeh.
(7). Mba’uleok : Ndolu, Mbau, Solo, Seli, Mbuik, Polo, Henuk, Pah, Poy, Fanggi, Hilli, Ndun, Lesik.
(8). Leseleok : Molak, Lesik, Tali.
(9). Nubuteik : Lilo, Nggili, Ndolu.
(10). Sa’iteik : Sain, Suek, Lu.
(11). Mangi : Mbuik, Salu, Luik, Dethan, Kanu, Nanuk, Sa’u, Pah, Lani, Sula, Aduba’o, Modok, Henuk, Mone.

Tiga suku yang berdiri sendiri tidak tergabung dalam kelompok tersebut:
1. Ndau : Mbalu.
2. Ambik : Menda.
3. Balaoli : Mandas, Menda, Naluk, Taek, Ndun.

Sumber Kutipan:
Soh, A.Z. dan Indrayana, M.N.D.K. 2008. Rote Ndao Mutiara Dari Selatan (Falsafah dan Pandangan Hidup Suku Rote Tentang Lontar). Yayasan Kelopak, Jakarta, halaman 69 – 71.

Ormeling, F.J. 1955. The Timor Problem – A Geographical Interpretation of An Underdeveloped Island. Thesis. Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta.

Kompasiana.com

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button