Tokoh

Haji Hasan Mustafa

Haji Hasan Mustafa adalah seorang Ulama Besar yang berasal dari daerah Cikajang, Garut, Jawa Barat.. Selain sebagai seorang ulama, beliau juga dikenal sebagai seorang sastrawan yang karya-karyanya selalu terkait dengan Agama Islam.

Pada sekitar 1885 di Garut timbul pertikaian paham antara golongan tua dengan kaum muda pembaharu yang cukup ramai, sehingga Penghulu Besar Haji Muhamad Musa mengirimkan orang untuk menjemput Haji Hasan Mustapa memenuhi panggilan itu, ia berhasil memadamkan pertikaian paham itu, lalu mendirikan pesantren di Sindangbarang, Garut.

Tahun 1893, ada lowongan jabatan penghulu besar di Aceh, Dr. Snouck membujuk Hasan Mustapa agar bersedia mengisi lowongan itu. Hasan Mustapa menerimanya dengan berbagai syarat di antaranya agar ia dipindahkan langsung ke Priangan segera setelah ada lowongan. Selama lebih kurang dua setengah tahun menjadi Penghulu Besar Aceh, Hasan Mustapa memberikan laporan-laporan itu, sekarang tersimpan di perpustakaan Universitas Kerajaan di Leiden, Belanda. Hasan Mustapa dianggap sebagai orang yang benar-benar ahli tentang adat-istiadat Sunda, sehingga kemudian ia diminta menulis buku tentang hal itu (Bab Adat-adat Urang Priangan jeung Sunda Lianna ti Eta [Bab adat-adat orang Priangan dan Sunda selain dari itu], Batavia, 1913).

Tempat Tanggal Lahir: Cikajang, Jawa Barat, 3 Juni 1852

Karya-karya:
Karya yang dicetak dan dijual secara umum:
Bab Adat-Adat Urang Sunda Jeung Priangan Liana ti Éta (1913), Essai tentang suku Sunda, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan Belanda (1977);
Leutik Jadi Patélaan Adatna Jalma-Jalma di Pasundan(1916);
Pakumpulan Atawa Susuratanana Antara Juragan Haji Hasan Mustafa Sareng Kyai Kurdi(1925);
Buku Pengapungan (Hadis Mikraj, tahun 1928);
Syekh Nurjaman (1958).

Buku untuk kalangan terbatas:
Buku Pusaka Kanaga Wara,
Pamalatén,
Wawarisan,
Kasauran Panungtungan.
Karya yang dicetak dalam bentuk stensilan:
Petikan Qur’an Katut Abad Padikana (1937)
Galaran Sasaka di Kaislaman (1937)

Karya yang tidak dipublikasikan:
Aji Wiwitan (17 jilid) (1923-1930), disimpan oleh sekretarisnya dan diketik ulang pada tahun 1960
Kasful Sarair fi Hakikati Aceh wa Fidir (Buku Rahasia Sebetulnya Aceh dan Fidi), naskah bebahasa Melayu yang sekarang disimpan di perpustakaan Leiden

Penghargaan yang Pernah Diperoleh:
Hadiah Seni dari Presiden Republik Indonesia secara anumerta pada tahun 1977.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button