AgendaSeni Rupa

Pameran Drawing Rasa Poncol, Gandheng Renteng

PAMERAN DRAWING ‘RASA PONCOL’, GANDHENG-RENTENG #3
Oleh 33 orang drawer dari Pasuruan + Surabaya dan Mbatu
di GOR Untung Suropati Pasuruan
2-9 Pebruari 2013

Kata pengantar katalogus pameran
MENJADIKAN ‘DRAWING’ IDENTITAS SENI RUPA PASURUAN

“Visi tanpa tindakan hanyalah mimpi belaka. Tindakan tanpa visi hanya akan menghabiskan waktu. Visi dengan tindakan akan mengubah dunia.” — Joel A . Barker.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Di tengah kondisi pasar seni rupa yang sedang tiarap, di tengah isu maraknya lukisan-lukisan palsu, di tengah kegalauan sebagian perupa yang karyanya ‘mangkrak’ di gudang-gudang galeri atau di gudang pribadi, namun hal itu tidak menyurutkan gairah para perupa Pasuruan untuk terus menggeliat. Bukan kami tidak paham tentang kondisi saat ini, tapi kondisi itu tidak cukup mampu meredamkan api semangat untuk berkarya dan berpameran.

Komunitas Guru Seni Dan Perupa Pasuruan (KGSP) menyapa kembali publik Pasuruan dan sekitarnya dengan menggelar pameran drawing yang mengangkat tema ‘RASA PONCOL’, GANDHENG-RENTENG #3. Pameran ini merupakan rangkaian dari even pameran tahun-tahun sebelumnya, termasuk even yang bertajuk ‘Gandheng-renteng’. Pada tahun ini kami bersepakat untuk menampilkan khusus karya seni rupa berupa drawing saja. Dengan didukung dan ‘menggandeng’ 32 orang penggambar dari berbagai kalangan; pelajar, mahasiswa, guru, dosen serta para seniman yang sudah cukup lama malang-melintang di blantika seni rupa, serta mengundang perupa dari Surabaya dan Batu-Malang, yang diharapkan bisa memberi atmosfir yang lebih segar.

Ada beberapa pendapat tentang definisi ‘drawing’. Definisi itu di antaranya ; Ada yang bertolak dari wujud visualnya, dengan menggunakan teknik dan alat apapun, termasuk dengan memanfaatkan media komputer. Ada yang mendasarkan pada penggunaan elemennya, yaitu setiap karya yang disusun dengan elemen ‘garis’ disebut drawing, termasuk berupa komposisi garis yang menggunakan media benang, kawat, lelehan cat, bekas torehan benda tajam yang melukai bidang gambar, dan sebagainya. Dan ada yang bertolak dari sudut teknik pengungkapan dengan menggunakan goresan media keras atau lunak di atas bidang datar.

Dari berbagai macam pendapat tentang ‘drawing’ di atas, untuk even kali ini kami cenderung memilih padangan ketiga, yaitu menggunakan goresan media keras atau lunak di atas bidang datar, kanvas atau kertas. Sedangkan yang dimaksud media tersebut, bisa berupa pensil grafit, charcoal, konte, pensil warna, krayon, kapur pastel, pulpen, pena, atau yang lain. Namun bila dianggap bisa meningkatkan kualitas artistik, kami bebas untuk memberi sentuhan dengan media lain, cair atau pasta, misalnya : tinta, cat air, cat akrilik, cat minyak, atau media pasta/ cair lainnya.

Beberapa alasan kami memilih karya drawing sebagai materi pameran;
Pertama, media drawing mudah didapat, harganya relatif murah, proses berkaryanya lebih praktis, sehingga diharapkan mampu memotivasi kalangan pelajar dan perupa pemula untuk aktif berkarya.

Kedua, mengakrabi kembali ‘tradisi’ seni rupa yang mulai ditinggalkan, setelah banyak perupa menggunakan teknologi digital dan printing dalam proses berkarya seni lukis. Bahkan tidak sedikit yang sangat bergantung dangan teknologi tersebut. Tradisi yang kian menghilang itu di antaranya membuat skets sebelum berkarya, menggambar alam benda, menggambar manusia, dan berkreasi lainnya dengan mengandalkan keterampilan manual.

Ketiga, kami secara bersama-sama punya obsesi dan membuat kesepakatan gerak dalam beraktifitas seni rupa, agar DRAWING BISA MENJADI IDENTITAS SENI RUPA PASURUAN.

Kami mengangkat ‘RASA PONCOL’ menjadi tajuk dari penyelenggaraan pameran drawing kali ini, sebagai ungkapan keprihatinan terhadap eksistensi Poncol pada kondisi sekarang. Poncol dengan segala dinamikanya, sebetulnya adalah aset budaya Pasuruan yang memiliki karakteristik unik, khususnya dalam hal interaksi antar manusianya. Juga, banyak menyimpan cerita dan kenangan dari masing-masing orang yang sedang atau pernah tinggal di Pasuruan. Tapi eksistensi Poncol seiring waktu kian memudar, tergilas oleh perkembangan jaman. Padahal Poncol adalah aset budaya Pasuruan yang cukup fenomenal dan unik. Ada kutipan menarik dari tulisan Kaji Karno, seorang pengamat dan pelaku sejarah Poncol :

“Poncol dan warung kopinya telah menjadi ‘icon’ kota Pasuruan. Warung-warung itu boleh jadi seperti gedung DPR. Berbagai wakil rakyat ‘tumplek blek’ mulai dari wakil PNS, makelar, ustadz, rekanan, tukang batu, tukang kayu, juragan mebel, pemborong, makelaran dari mulai ‘jarum’, arloji’, batu akik, batu pirus, illegal loging, rumah, mobil, sampai makelar ‘dukun’. Di sela sela urusan ‘suhul’ (bisnis), ada hal lain yang menarik dari ‘nggedabrus’ mereka yaitu, ‘ngrasani negoro’.

Harapan kami, dengan adanya pameran drawing ini dapat menggugah kita semua, khususnya warga Pasuruan, untuk menyadari kembali betapa pentingnya mempertahankan keberadaan Poncol sebagai salah satu identitas dan aset budaya Pasuruan. Semoga Allah SWT meridhoi serta memberikan daya kekuatan terhadap yang kami perjuangkan.

Akhirulkalam Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Ketua Umum
Komunitas Seni Pasuruan
Wahyu Nugroho

Peserta pameran :
Abid, Afresh, Agung, Akbar, Akhid, Antok, Anwar, Badrie, Budi, Candrani, Edy, Eki, Garis, Gatot, Ilma, Kacong, Karyono, Koeboe, Medik, Muhdor, Nanda, Nonot, Rohadi, Rosidi, Soeryadi, Subagyo, Suyuti, Teguh, Toni, Toriq, Ulum, Wahyu, Yuda

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button