Serba Serbi

M�tissages di Selasar Sunaryo Arts Space Bandung

M�tissages: Teknik dan Seni Tekstil Internasional

Selebritis mana yang tidak mengenal rancangan mode busana dari Prancis? Tentu saja hampir semua mengenal rancangan mode busana yang sering dipamerkan di atas catwalk oleh model-model cantik dan tampan. Dan sudah barang tentu mereka mengenal perancang busanannya ketimbang penjahit atau pekerja di belakang mesin jahitnya. Nah, perancang busana atau pengusaha tekstil dapat melihat �dapur� kreatif rancangan sebuah busana di Prancis dengan mengunjungi pameran �M�tissages: A Crossbreeding of
contemporary Art and textiles Exhibition� yang dikurasi oleh Yves Sabourin, French National Fund of Contemporary Art and Private Collections di Galeri Selasar Sunaryo Art Space, Bandung (21/9) kemarin……..

�M�tisse� artinya campuran, sedangkan kata �tissages� artinya rajutan. Dua kata itu disulam menjadi makna yang eklektik bagi pameran tersebut. Pertemuan keragaman teknik dalam seni kontemporer dunia tekstil dari 56 kreator dari berbagai negeri dan zaman itu dapat diapresiasi dengan sepuas-puasnya. Pameran ini berlangsung mulai tanggal 22 � 27 Oktober 2007 di Selasar Sunaryo Arts Space, Bandung, atas kerja sama CCF Bandung dengan Selasar Sunaryo Arts Space yang didukung oleh Departemen Kebudayaan dan Komunikasi Prancis, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, CulturesFrance, dll……

Pameran M�tissages sudah singgah di lebih dari dua puluh tempat di Prancis dan di berbagai penjuru dunia sebanyak 18 pameran. Pameran di Indonesia merupakan event yang ke-19 setelah singgah di Fondation Jim Thompson, Bangkok. Pameran ini menyatukan 52 karya, koleksi CNAP/Fonds National d�Art Contemporain (Pusat Nasional Seni Rupa) dan koleksi Pribadi. Karya-karya ini lahir dari dialog antara seniman kontemporer dari berbagai kebangsaan dan perajin dengan kepiawaian teknik dalam bidang tekstil. Tenun, Sulam, aplikasi dan lilitan, karya-karya dalam m�tissages menggabungkan warisan tradisi dan pembaharuan pada titik temu kepiawaian teknik dan kreasi kontemporer……..

Untuk pameran di Asia, kurator Yves Sabourin mengusulkan untuk mengikutsertakan karya-karya yang dibuat dengan teknik warisan dari setiap negara yang dikunjungi. Demikianlah untuk pameran di Indonesia, 7 karya yang mewakili tekstil Indonesia akan di pamerkan, namun hanya 4 karya saja yang akan diikutsertakan di Bandung……..

Mengapa Indonesia menjadi salah satu negeri yang dikunjungi dalam pameran keliling, Yves Sabourin mengatakan, bahwa sebaba pertamanya adalah wacana seni kontemporer yang juga aktual di Indonesia. Yves Sabourin melihat karya-karya seni dengan material tekstil karya perupa muda Indonesia yang dipamerkan di Bandung dan Jakarta membuatnya tertarik dan menyatakan kesukaannya bila karya yang dilihatnya disertakan dalam pameran M�tissages ini. M�tissages di Indonesia bukan hal yang sulit karena hubungan Pusat Kebudayaan (CCF) Prancis di dunia cukup baik. Semua itu, kata Yves, adalah perkembangan gagasan dari sebuah dialog bersama seniman dan kreasinya di Prancis……..

Sejak 1996, secara resmi Yves mulai memikirkan masalah tekstil dan seni kontemporer untuk Delegasi Seni Rupa (Departemen Kebudayaan dan Komunikasi Prancis). Pada saat yang sama Yves memutuskan untuk merangkul teknik-teknik paling canggih yang dijabarkan oleh para pemakainya yang secara bebas dapat menggunakan kemahiran mereka dalam pengolahan serta ketajaman pikiran……..

Yves juga berdialog dengan para seniman yang menggunakan kain sebagai media serta mereka yang ingin menggunakan serat dan benang. Berdasarkan pengalaman yang diperoleh dari keseharian ini perlu dicatat bahwa semua gagasan tentang estetika, yang cenderung menyempit pada satu usulan dan satu definisi ruang-ruang kreasi, dapat diabaikan. Dari keberagamanlah muncul dan berkembang proyek seni. Gagasan
Yves untuk menyatukan semua kreativitas seni dan teknik itulah yang memberi dorongan seniman tekstil untuk berkraya khusus untuk pameran ini……..

Di dalam pemaparannya, Yves mengatakan bahwa ia melihat banyak karya tekstil kontemporer, baik dengan teknik maupun seni yang tinggi dan unik. Amatan Yves hingga membuat pameran M�tissages juga terinspirasi oleh keberagaman budaya di dunia yang menurutnya mungkin dipertemukan di dalam satu ruang diskursif seni kontemporer. Di mana gagasan, karya dan pribadi seniman dapat saling berbagi pengetahuan dan wawasan kultural tentang seni dalam pameran M�tissages ini……

Dialog kultur yang memungkinkan, perbedaannya, serta khazanah seni merupakan latar belakang pemeran M�tissages ini, dalam rangka melihat keberagaman dunia fashion, politik, jaman, dan seni di tiap daerah. �Pokoknya seni kontemporer adalah kata kunci dari pertemuan karya yang menarik ini,� kata Yves. Sedangkan opini ia tentang karya seni tekstil Indonesia mengatakan bahwa, �Saya suka pada motif, visualnya, detailnya�misalnya tardisi wayang golek di mana unsur tekstil berperan,� sambung Yves……..

Karya-karya yang dipamerkan dalam event keliling dunia ini banyak mengambil koleksi FNAC. Dan FNAC adalah sebuah gudang karya seni bertaraf internasional di daerah Puteaux, Paris. Karya-karya itu milik pemerintah Perancis, karena karya tersebut dibeli dengan menggunakan dana pemerintah Perancis dan menjadi koleksi milik milik Prancis……

**

Karya Anne-Lise Broyer et Nicolas Comment yang berjudul �Fading� (2006), adalah teknik bordir gabungan dari Rochefort yang diproduksi melalui workshop B�gonia d�or, Rochefort-sur-mer, Prancis. Bahan yang digunakan antara lain kain katun, benang katun, pita satin dan cat akrilik. Titik awal �Fading� adalah usaha pembentukan kembali (sisi perasaan) dari pasangan fotografi/perupa sebagai persembahan kepada
penulis Roger Vaillant dengan mewujudkan �Fading� sebagai sisi perasaan penulis, sarat dengan sensasi Kota Praha. Untuk itu mereka bertopang pada tulisan-tulisan sang pengarang sebagaimana pada hubungan-hubungannya sebagai artis Joseph Sima sang putra. Gagasan menggabungkan tekstil menjadi jelas saat menemukan buku coretan-coretan dari Joseph Sima sang ayah, yang memperlihatkan motif-motif tradisional Ceko………

Seluruh perhatian mereka tergugah dan dengan melihat Telsa sebuah radio kuno dimana di bagian depannya terpampang nama-nama ibu kota di Eropa. Me-transformasikannya ke dalam bentuk pahatan: menggantikan kain sederhana di bagian depan dengan bordiran bermotif tradisional, yang pola tulisannya sudah dilakukan oleh Sima sang ayah, di mana dipasang pita suara yang mencampurkan bunyi yang diambil dari kota, dan merupakan komposisi, mungkin sisi perasaan suara mereka. Jarum ditempatkan pada frekuensi Kota Praha dan cahaya yang dipancarkan berwarna merah……..

Karya yang tak kalah menarik untuk diapresiasi adalah tutup kepala di Arab karya Mona Hatoum yang berjudul �Keffieh� (1999). Sebuah sulaman rambut alami perempuan di atas penutup kepala dari katun berukuran115 x 115 cm yang dikerjakan oleh para siswi sekolah profesional regional Gilles Jamain di Kota Rochefort sur-Mer dalam pelajaran menyulam C.A.P., Prancis. Karya ini koleksi milik Fonds national d’art contemporain (FNAC); adalah sebuah gudang karya seni bertaraf internasional di daerah Puteaux, Paris. Karya-karya itu milik pemerintah Perancis, karena karya tersebut dibeli dengan menggunakan dana pemerintah Perancis dan menjadi koleksi milik milik Prancis……..

Karya ini merupakan aksi politik untuk kebebasan dan kelangsungan hidup suatu kebudayaan dan juga untuk kesetaraan laki-laki dan perempuan. Karya ini juga merupakan penyimpangan dari tutup kepala, yang khusus dipakai oleh kaum lelaki muslim, dan disulam atau dicetak dengan warna hitam. Mona Hatoum memutuskan untuk meletakkan motif tradisional keffieh di atas tutup kepala polos, tetapi dengan menggunakan rambut perempuan, bagian yang tidak diperlihatkan di kehidupan kaum beragama Islam yang taat, mungkin dianggap terlampau sensual. Panji pada dekor tersebut, yang secara janggal menyerupai terali, adalah sebuah pertanyaan untuk budaya muslim……..

Deskripsi karya ini cukup menarik untuk diapresiasi melalui sebuah catatan wawancara Mark Francis dengan Mona Hatoum berikut ini. �Bagi saya, sebuah karya seni berdasarkan definisinya adalah artefak budaya, walaupun saya memutuskan untuk memamerkannya dengan cara mengenakannya pada diri saya sendiri. Begitu Anda menyadari bahwa motif Keffieh disulam dengan menggunakan rambut perempuan, objek ini menjadi simbolis dan menggantikan realita. Sebagai akibat, akan muncul sejumlah pertanyaan menarik dan kontradiksi. Penyulaman biasanya dilakukan oleh kaum wanita dan di sini anak-anak rambut perempuan yang panjang digunakan untuk menyulam, mereka menyelipkannya sendiri di dalam pengerjaannya. Keffieh biasanya dipakai oleh kaum lelaki dan karena objek ini menjadi simbol perlawanan, suatu perbawa machiste mengelilinginya. Keffieh ini merupakan suatu usaha untuk memberikan unsur feminin pada busana ini � dapatkah kita membayangkan, seorang laki-laki memakainya dengan rambut perempuan yang berada di atasnya?…….

Karya ini juga mengandung simbol protes kaum perempuan. Dalam istilah Freud, menjadi sebuah objek misterius dalam semua makna kata. Busana sehari-hari setelah mendapat perubahan ini menjadi sebuah objek asing dengan ikal-ikal rambut yang janggal? Ada saat yang meragukan ketika kita mendekati objek ini karena kita tidak yakin dengan apa yang kita lihat, yang memberikan rasa misterius pada objek ini. Dan akhirnya, dengan memasukkan rambut manusia ke dalam objek statis ini, hal tersebut memberikan semacam kehidupan pada benda ini. Rambut dipandang sebagai simbol vitalitas karena tumbuh, dan tumbuh, dan terus memanjang setelah kematian. Di dalam istilah yang lebih sederhana, tutup kepala, khususnya di dunia Arab, biasanya dipakai untuk menutupi rambut, karena rambut panjang merupakan simbol dari kebebasan seks. Rambut panjang perempuan yang tumbuh melewati tutup kepala ini menghancurkan penghalang dan kekerasan,� kata Mona Hatoum dalam sebuah wawancara dengan Mark Francis……

Karya unik lainnya terlihat pada karya Natacha Lesueur yang berjudul �Sot l�y laisse� (2005) adalah sebuah bordiran emas Rochefort, materi bahannya antara lain benang emas dan sutra menghias foto yang dicetak diatas kain sintetis berukuran 10 x 18 cm yang dikerjakan dalam workshop B�gonia d�Or, Rochefort-sur-Mer, Prancis, koleksi FNAC. Makanan dan tubuh manusia. Dua tema ini sering muncul dalam karya fotografi seniman ini. Wadag manusia, berpose dan disangga di beberapa tempat, terlihat seperti mengalami penganiayaan dan kesakitan yang diterimanya begitu saja. �Mungkinkah wadag manusia adalah masakan (hidangan)?� Katanya……..

Ini adalah area eksperimen (kuliner � makanan) dengan pra-sangka sadisme yang memungkinkan orang melihat jejak yang menjadi motif sebenarnya. Memunculkan penampakan jejak ini berarti mengusung ide tentang kecohan yang keliru. Untuk proyek ini tubuh yang difoto adalah tubuh seorang perempuan. Dicetak di atas kain dan menjelmalah sajian menyeramkan: asbak sederhana, wadag menghancurkan rokok. Apakah ini merupakan gambaran barbar, masokis? Tanyanya pada karya itu. Karya sulaman ini merupakan ilusi yang bersemayam dalam ingatan sang seniman, yang kemudian dicetak dan dijadikan layaknya alas meja…….

Yves Sabourin mengatakan bahwa seniman yang masih asing terhadap dunia tekstil seperti Anne-Lise Broyer dan Nicolas Comment, keduanya fotografer, telah merealisasikan �Fading� sebuah karya yang didedikasikan untuk jiwa Kota Praha dan terinspirasi oleh sulaman tradisional Ceko, dalam rangka proyek culturesFrance/Institut Fran�ais. Dan Val�rie Belin, fotografer, menyetujui penyulaman langsung di salah satu karya fotonya, dalam warna hitam putih, dengan payet dan benang pilin logam perak (benang ini menyerupai sebuah spiral tetapi tidak elastis) untuk merealisasikan kecemerlangan dari �Chips # 1�……..

Bahan-bahan yang tak lazim dipakai atau bahan-bahan baru. M. Salvador-Ros, perajin renda, menjalin benang logam murni, tanpa benang penuntun pada kain, untuk Nursery�s crime, suatu keangkuhan didalam menyusun kembali organik karya Fran�oise Quardon. S. Mona Hatoum, dengan bantuan kelas sulam SMA Gilles Jamain di Kota Rochefort-sur-Mer, merealisasikan Keffieh, penutup kepala laki-laki yang disulam dengan menggunakan rambut perempuan……..

Perupa muda asal Bandung, Wiyoga Muhardanto dengan judul karyanya �Disposable Gucci� (2007) menggunakan teknik jahit dan temple dengan material 3 jarum suntik insulin, dan kanvas motif Gucci berukuran 17 x 2,5 cm per karya koleksi L’artiste. Wiyoga mengatakan, �Saya melihat lebih jauh bahwa objek keseharian sebagai prestise dan penanda kelas sosial dengan merk tertentu yang bersifat seperti kebutuhan yang wajib dipenuhi. Seperti yang saya hadirkan melalui karya ini berupa bentuk alat suntik yang menggunakan pattern dari merk GUCCI yang dipandang sebagai merk dalam lingkup produk fashion yang cukup ternama.� Manusia seolah tidak dapat bertahan hidup dan merasa dirinya telah menjadi ketergantungan terhadap suatu prestise dari penggunaan produk……..

Dalam kurasinya, Yves Sabourin mengatakan, pameran yang disuguhkan berupa karya-karya tradisional Indonesia, dan saya memilih untuk menyuguhkan objek-objek yang berasal dari keragaman budaya seperti Boneka Sigale-Gale (Koleksi Museum Nasional) boneka yang diciptakan oleh Raja Gayus Ruma-horbo, dari kayu yang dipahatnya dan diberi busana tradisional. Boneka yang berselubung misteri ini, dikeluarkan pada saat pemakaman, berasal dari adat Batak (Sumatera Utara), pada umumnya dihancurkan setelah upacara. Dalam dimensi kepercayaan ini ada juga Kain Sarita (koleksi Museum Tekstil) karya dengan kain tulis yang berfungsi sebagai jimat untuk mengusir roh jahat pada saat pemakaman untuk masyarakat Tana Toraja (Sulawesi Utara)……..

Begitu juga dalam kaitannya dengan perlindungan, Baju/Blus yang dikenakan, busana yang terbuat dari kain katun dan disarati dengan motif kaligrafi islamis yang membuatnya menjadi pelindung. Di masyarakat Papua kulit kayu diolah untuk dijadikan busana semacam tekstil serat tumbuhan, Kain Penutup Mayat dari Senatani (Utara Papua) berhiaskan motif abstrak merupakan contoh dari perlindungan terhadap tanaman (koleksi Museum Nasional). Untuk karya-karya modern Indonesia, saya memilihnya dalam bentuk ekspresi kreatif yang lebih beragam. Wayang: Wayang Golek Cepak, Wayang Gambyongan dan Wayang Golek Merak (koleksi Ibu Asmoro Damais) melestarikan antara lain sejarah Islam atau juga pertunjukan tari, di dalam tradisi murni wayang-wayang ini didandani dengan busana dan kain tradisional……..

Karya-karya kontemporer Indonesia dengan perancang Harry Darsono yang menciptakan antara lain pakaian (jahitan tangan), dengan jasnya Na�ve. Ia menawarkan, dengan ribuan simpul-simpul kecil (simpul pasir) dan warna, suatu ilustrasi perasaan sedih atau gembira manusia seperti kesedihan dan keberanian, sebuah busana mutlak yang membebaskan. Perupa, Wiyoga Muhardanto mengusulkan sebuah kritik pemakaian produk luks. Untuk pameran ini ia menutupi satu seri jarum suntik insulin Disposable Gucci, disulam dengan simpul-simpul kecil pada dari terkenal……..

**

M�tissages adalah sebuah asosiasi profesional dari dua dunia seni yakni dunia seni kontemporer dan dunia pengrajin tekstil Prancis. Berkat proyek ini, dua dunia dapat saling mengisi: di satu sisi para seniman dapat memikirkan penggunaan teknik yang seringkali tak dikenal dan di sisi lain, pengrajin dapat mengungkapkan gagasan dalam menginterpretasikan kepiawaian teknik mereka……..

Selain itu, M�tissages juga merupakan kebersamaan seniman kontemporer dari berbagai kebangsaan yang bekerja di Prancis dengan tematik, problematik dan teknik yang berbeda-beda. M�tissages adalah pertemuan dengan tujuan baru, publik baru, budaya baru dimana terdapat tradisi tekstil yang bagaimanapun caranya akan bergabung dalam pameran ini. Yves Sabourin, kurator pameran ini akan mendampingi pameran di tahapan baru ini. Ia akan memberikan kesempatan kepada kita untuk mengenal nama-nama besar dari seni kontemporer Prancis, karya-karya yang sangat berbeda, dan juga teknik dan
seni tekstil kuno dari masa lampau……..

�Sekarang Panorama Tekstil telah jadi dan di dalam ranah penerapan ini, berbagai perspektif dapat diungkapkan dan karya-karya berkibar. Semua mungkin atau selayaknya dipahami,� kata Yves Sabourin. Pameran M�tissages ini akan dilanjutkan pada tanggal 8�23 November 2007 di Museum Nasional, Jakarta. (Foto/Teks: Argus Firmansah/Bandung/Kontributor lepas KOKTAIL).

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button