Serba Serbi

Konstelasi Abu Abu dan Ruang Publik Kota Bandung

Konstelasi Abu-Abu: Sebuah Interupsi Politik Budaya dari Arief Tousiga
Sebuah pameran tunggal dari Arief Tousiga digelar di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung pada tanggal 24 Juli 2007 kemarin. Pameran itu menyajikan proses berkarya dalam bentuk fotografi dan video art. Foto-foto itu memuat gambar-gambar proses pembuatan patung figur manusia, penempatan figure di ruang-ruang publik kota Bandung, hingga beberapa foto yang melukiskan respon masyarakat terhadap patung figure yang dibuat mirip manusia asli dengan warna abu-abu. Patung-patung figure yang menjadi mimesis manusia asli itu dibuat pada tahun 2004 di Rumah Proses kemudian ditempatkan di Kopi Selasar � Selasar Sunaryo Art Space, SPBU 34.401.22 Dago, McDonald�s Setiabudi, Perpustakaan FSRD ITB, Cascade Factory Outlet, dan Kimia Farma No. 10 di Jalan Braga. Respon masyarakat terhadapo keberadaan patung-patung figur mimesis manusia itu direkam dalam kaset video dan jepretan foto, dokumentasi inilah yang dipamerkan di Selasar Sunaryo Art Space dari tanggal 24 � 31 Juli 2007.

Dalam pengantar pembukaan pameran karya Arief Tousiga, kurator Selasar Sunaryo Art Space, menyatakan ketertarikannya terhadap karya Arief ini lebih pada bagaimana menumbuhkan wacana estetika dengan subject matter-nya adalah ruang publik. Proyek seni publik ini cukup menarik karena Arief Tousiga mendudukan kota Bandung sebagai ruang publik yang layak diberi petanda. Pendekatan artistic di ruang publik macam ini menawarkan wacana yang menarik sebagai salah satu genre perupaan yang sudah mapan dewasa ini. Dengan menyodorkan sebuah pertanyaan, manakah yang private dan publik? Heru Hikayat, kurator pameran Arief Tousiga, mengatakan dalam pembukaan pameran bahwa, Arief menggunakan setilasi pada gubahan visualnya. Karena membuat patung figur manusia yang hidup memang susah, di luar kekuasaan kreatornya sebagai manusia biasa, maka ia membuat rancangan mimesis dari figur tubuh manusia itu dengan gubahan visal abu-abu.

Pembukaan pameran tunggal itu dibuka dengan sebuah orasi budaya oleh Setiaji Purnasatmoko. Dalam orasinya, Mas Aji, panggilan akrabnya, memaparkan konsep definitive tentang ruang publik dalam perspektif sejarah kebudayaan. Orasinya berpijak dari wacana filsafat penandaan dari jaman kebudayaan industri tahun 60-an. Sehingga diperoleh pemahaman definitif relatif menyoal ruang publik dalam term-nya sebagai realitas. Ruang publik dalam ranah filsafat tanda (semiotika) adalah realitas. Realitas ini dibangun atas konstruksi tanda oleh aktivitas produksi, sehingga muncul realitas baru melalui proses rasionalisasi. Mas Aji menawarkan pertanyaan atas karya Arief Tousiga ini dengan bunyi, sejauhmana Konstelasi Abu-Abu adalah rasionalisasi ruang? Apakah kota (Bandung) adalah produk atau karya? Masing-maisng ruang yang ditandai Arief Tousiga dengan menampatkan patung-patung itu bukan alam, maka konstelasi abu-abu jadi produk yang membunuh ruang publik itu sendiri.
Sementara pemaparan Diyanto, perupa asal Bandung, menyatakan bahwa, karya Arief ini menarik sebagai wacana estetik. Cuma, yang menjadi persoalan apakah titik-titik Ruang Publik itu direncanakan atau secara politis memaknai ruang? Apakah proses penandaan itu dari patung ke ruang atau sebaliknya? Diyanto juga menilai karya Arief sebagai aksi positif untuk menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat menyoal hakikat atau makna ruang-ruang publik yangmana mereka kunjungi. �Saya kira Ruang Publik memang harus ditandai oleh objek seni, sehingga muncul pemahaman ruang kota.� Pada kesempatan yang sama, Diyanto juga mengkritisi karya patung figuratifnya itu. �Kalau diamati patung-patung itu kehilangan rinci ketika patung figur itu diberi pakaian. Padahal tadi diuangkapkan bahwa Arief memperhatikan rinci karya-karyanya.�

Karya Arief Tousiga ini sebenarnya bukan karya baru dalam wacana seni rupa di abad ini. Perupa atau seniman di Amerika dan Eropa sudah banyak melakukan karya sebagai interruption art space di kota-kota besar seperti Paris, New York, atau kota besar yang menjadi ikon peradaban maju lainnya. Karya semacam ini tidak mengolah hasil akhirnya baik dalam bentuk fotografi atau video art. Sebagai seni yang berpijak pada kebudayaan posmodernisme, penandaan justru sudah dimulai sejak proses fotografi atau pembuatan video art itu sendiri. Masyarakat mengapresiasi karya mereka yang hadir sekonyong-konyong di ruang publik milik umum, dan bentuk apresiasi dari masyarakat itulah yang menjadi penandaan eksternal terhadap karya mereka.

Apa yang menjadi orientasi dari perupa genre ini merujuk pada istilah semiotika, antara lain: citraan baru, realitas baru, representasi dari sesuatu, ada/mengada, pikiran, interpretasi, pikiran, kesadara/ketidaksadaran, media, bahkan anti-estetik. Yasraf Amir Piliang, dalam esai katalognya, mengantarkan karya Arief itu pada wacana seni postmodernisme. Bagaimana kita dapat emmbedakan antara realitas dan citra realitas di dalam dunia yang dibangun oleh tumpangtindih antara citra dan realitas? Bila citra bukan realitas, apakah �kehadirannya� menunjuk pada sebuah realitas di luar dirinya? Apakah realitas hadir �mendahului� citra, atau citra dapat hadir tanpa rujukan pada realitas? Bila citra itu dapat hadir tanpa ada realitas yang mendahuluinya, bagaimana kita menerima citra itu sebagai �realitas�?
Tulisan Yasraf pada katalog pameran Arief melegitimasi wacana karyanya sekaligus menempatkan Konstelasi Abu-Abu pada ranah visual art ala Amerika. Penandaan secara simulasi, imaging, serta politik wacana kebudayaan juga nampak jelas dinyatakan oleh Yasraf Amir Piliang melalui teks-teks panjang di katalognya. Di dalam karya-karya patung Arief Tousiga, representasi itu sendiri (patung-patung) yang dibaurkan dengan realitas harian di jalan, apotik, perpustakaan, restoran cepat saji, bertujuan menggugah perasaan tentang lenyapnya batas antara citra dan realitas.

Konstelasi Abu-Abu bergerak di antara pengalaman penampakan: (1) pengalaman berhadapan dengan dunia �realitas murni� atau �alamiah� [natural reality], yaitu pengalama face-to-face di hadapan realitas, yang tanpa mediasi dan intervensi citra, (2) pengalaman berhadapan dengan �citra realitas� [mirror image of reality], yaitu representasi realitas melalui aneka medium dan ekspresi, (3) pengalaman berhadapandengan �citar murni� [pure image], yaitu citra yang dibangun secara artifisial, yang terlepas dan tak ada relasinya dengan dunia realitas itu sendiri. Yasraf juga menyatakan bahwa karya Arief itu memiliki tiga medan tatapan (gaze), yaitu: (1) �tatapan langusng� [face-to-face], tatapan yang di dalamnya mata berhadapan secara langsung dengan objek-objek yang ditatap, (2) �tatapan yang dimediasi� [mediated gaze], mata tidak berhadapan langsung dengan objek yang ditatap, (3) �tatapan murni� [pure gaze], tatapn yang di dalam strukturnya mata secara langsung berhadapan dengan sebiah citra murni, yang tak ada relasinya dengan realitas.
Dalam wacana ini memang muncul persoalan jarak antara objek citraan dengan subjek. Akan tetapi wacana ini telah tumbang di kebudayaan asalnya, yaitu Amerika, karena kesadaran estetika dalam diskursus posmodernisme hanya sebuah replika dari titik balik peradaban Barat yang kehilangan identitas wacana kebudayaannya setelah pikiran-pikiran filsafat dalam sangkutpautnya dengan globalisasi semacam itu tidak menuntaskan masalah sosial dan individu (humanisme universal). Arief Tousiga sendiri melihat sebelah mata ketika melihat budaya metropolis orang-orang Bandung dengan tindakan konsumerismenya. Peristiwa budaya yang terjadi di ruang publik kota Bandung tidak dapat semena-mena dikatakan sebagai produk budaya global murni. Bahwa gaya hidup, konsumerisme, tidak memiliki akar sejarah budaya seperti yang terjadi di Amerika dan Eropa pada abad 20.
Sejarah budaya Indonesia berbanding terbalik dengan arah kemajuan kebudayaan Barat dan Eropa. Kesadaran inilah yang tidak ditemukan jejaknya pada seniman muda yang menatap kebudyaan Barat dan Eropa sebagai citra tertinggi, padahal kebudayaan mereka kini mulai menelisik kebudayaan Asia Tenggara, Indonesia khususnya, sebelum istilah Nusantara muncul dalam wacana kebudayaan secara geografis. Yasraf memang terbilang rajin memungut istilah-istilah kebudayaan postmodern dalam menilik suatu karya yang menggunakan instrumen atau produk-produk globalisme. Padahal senyatanya, Indonesia (Asia Tenggara) belum melalui peradaban industri seperti Amerika dan Eropa.
Konsep ruang dimaknai secara rasional oleh masyarakat kita hanya menjadi sebuah tindakan adopsi parsial untuk menyusun pemikiran pseudo-Western dalam estetikanya. Bukankah konsep ruang dan maknanya sudah kita miliki di dalam mitologi budaya Indonesia yang terpelihara oleh masyarakat yang Jawa, Sunda, Melayu, bahkan Asmat sekalipun. Wacana realitas dengan teks-teks panjang Yasraf Amir Piliang tidak lebih dari sekedar pengutipan istilah budaya yang sempat trend di Amerika pada tahun 1970-an. Sebuah wacana yang muncul dari gerakan seniman yang mengalami cultural-shock di abad industri. Dan Konstelasi Abu-Abu itu hanya sebuah pameran proses bagaimana Arief Tousiga memberi makna pada ruang-ruang publik. Perdebatan wacana di dalam karya itu tak lebih dari politisasi wacana estetik yang diadopsi dari gerakan estetik Amerika pada abad 20, khususnya oleh Yasraf Amir Piliang yang sempat mengenyam serpihan wacana postmodernisme di Amerika. Maka karya Arief Tousiga pun cenderung menjadi tindakan snobis estetika Amerika. Kekayaan dari kearifan lokal kita tidak tersentuh dalam karya Arief Tousiga.

Inilah beberapa teks asli dari sanga pemilik kebudayaan global menenggarai wacana ruang publik karya Arief Tousiga sebagai mimesis seni postmodernisme Amerika dan Eropa. Sehingga apresiator memiliki consciousness terhadap adoption of terms yang dilakukan Yasraf Amir Pilaing dalam katalog pameran Arief.

…the scenario of the ‘overexposed city’, as the French urban socioligist Paul Virilio calls it, captures the postindustrial ambience that we begin to experience in the changing relationships of our bodies and our consciousness to the sprawling ubiquity and instantaneousness of information in our electronic culture. Virilio explains this sprawl in terms of a telecommunicational world of absolute speed that will ultimately abliterate cities and their inhabitants. But there is another fiercely debated French theory. Jean Baudrillard’s concept of ‘simulation’ semms even more pertinent to American perceptions of the technological ‘revolution’ and the new ‘automobility’ of audiovisual information (Johannes Birringer, 1991;114).

The problematic of postmodernism-and its significance as a cultural struggle over the perception and evolution and evaluation of the historical moment in which we live-involves both aesthetic and political question. Much of this discourse and ideological critique, as a repertoire of posibilities for an ongoing inquiry into the social processes of reading and viewing capitalist development and modernization rather than imposing an apparatus of imported and domestic concept of poststructuralism/postmodernism, are made to converge here on the question of how one might have to rethink the idea of performance in the mid-1980s and after. This is especially true at the level of postindustrial information and communication technology and mass-mediational system (Johannes Birringer, 1991;169-170).
…..As Jean Baudrillard observes, our livestyles have grown used to the soft, homogenizing operation od mass communication and commodification forms (with especially high acceleration and self-replication in fashion, entertainment, and art market) which render ‘real’ formal distinctions (i.e. qualitative perceptions of meaning) and the particularity of aesthetic objects virtually obsolescent categories in view of tehe emerging noncategirical logic of ourely operational surfaces-teh logic of ‘imagogenetics’ and ‘computergrammatics’, for examples, taht was so forcefully captured by Nancy Burson’s recent exhibition of ‘simulacra: Forms without Substance’ (International Center of Photography) (Johannes Birringer, 1991;171).

Inilah cermin generasi muda yang kehilangan identitas budayanya sendiri, sehingga melupakan filsafat budaya lokal bangsa Indonesia. Namun demikian karya patung mimesis dengan perdebatan menyoal ruang publik merupakan ekspresi seniman muda yang mengenyam pendidikan seni di Institut Teknologi Bandung. (Argus Firmansah/Kontributor Mingguan Jurnal Nasional/Komunitas Pantau – Bandung).

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button