Serba Serbi

“C Koi Ce Cirk?” Marionnettes dari Perancis

“C Koi Ce Cirk?”…Apakah Bintang Itu? demikian terjemahan judul pementasan teater boneka Marionnettes dari Perancis yang digelar pada malam 22 Mei 2007 di Auditorium Pusat Kebudayaan Francis (CCF) Bandung.

Pertunjukan yang dikemudikan oleh 4 seniman muda ini berhasil membawa kesadaran penonton pada hal-hal yang sederhana. Mereka adalah Harel Ludovic, Guillot Jereme, Le coz Eglantine, Beraudy Maud. “Tinggalkan kehidupan sehari-harimu…mari kita bermimpi dan berimajinasi walau hanya 50 menis saja,” demikian konsep kelompok C Koi Ce Cirk dari Perancis ini.

Tak ada cerita utuh layaknya film atau sinetron Indonesia pada umumnya. Cerita atau laku karakter boneka yang dimainkan hanya berupa fragmen pendek, namun komunikatif dan membuat penonton sadar kembali atas hakekat kemanusiaannya.

Menonton teater boneka ini seolah menanggalkan kebakuan cara hidup manusia yang semakin jauh dari nilai kehidupan makhluk Tuhan yang sesungguhnya. Penonton, termasuk saya juga, hanyut dalam naturalisme di dalam imaji pertunjukan ini.

Teater boneka ini, menurut Harel Ludovic, merupakan karya yang terinspirasi oleh “teater hitam” dari Rusia. Atau kita bisa melihatnya seperti teater boneka Bunraku, Jepang. Boneka dihidupkan oleh seniman yang di atas pentas mengenakan pakaian gelap dan menyerap cahaya, sedangkan boneka karakter dikemas dengan bahan yang memantulkan cahaya sesuai warna dasarnya ketika disorot oleh lampu ultraviolet. Sangat sederhana.

Harel mengatakan bahwa kelompok mereka ini mulai merintis proses kreatifnya sejak tahun 2001, dari sebuah perkumpulan seniman teater boneka yang berbeda latar belakang pekerjaannya; ada yang sudah bekerja, mahasiswi, dan seniman. Harel mengatakan bahwa bentuk teater boneka seperti ini diamini sebagai media yang paling komunikatif dan dapat mengakomodasi ide-ide kreatif, serta mudah diterima oleh publik/penonton di manapun.

Komedi merupakan sarana hiburan yang paling tepat bagi masyarakat dunia masa kini, setelah kepenatan menghinggapi orang-orang di seluruh dunia. Ide cerita dikerjakan oleh semua personil dalam tim ini. Tak ada sutradara atau penulis cerita khusus, karena cerita diambil berdasarkan kesepakatan tim dan pengembangan ide dikerjakan bersama-sama. (Argus, CCF Bandung, 22 Mei 2007)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button